kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Basuki: Saya cukup kenyang pengalaman banjir


Jumat, 24 Januari 2014 / 16:11 WIB
ILUSTRASI. Login di Dashboard Prakerja.go.id, Daftar Kartu Prakerja Gelombang 44 Resmi Dibuka


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku memiliki banyak pengalaman terendam banjir. Saat masih tinggal di Belitung hingga hijrah ke Jakarta, Basuki merasakan jadi korban banjir.

"Jadi, siapa bilang saya enggak pengalaman banjir?" kata Basuki di Balaikota Jakarta, Jumat (24/1/2014).

Saat Basuki duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 1981, ia bersama keluarganya menetap di Pademangan II, Jakarta Utara. Di kawasan tersebut, kediamannya menjadi langganan banjir, baik banjir rob maupun banjir tahunan.

Tak tahan banjir datang ke rumahnya, ia dan keluarga pindah ke Jalan Industri III Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada tahun 1982. Lagi-lagi, di rumah barunya itu tak luput dari banjir. Kemudian, pada tahun 1984, saat Basuki mengenyam pendidikan di Universitas Trisakti, Jakarta, keluarganya memutuskan untuk pindah rumah lagi. Kini, pilihan mereka jatuh di kawasan Muara Karang Blok V, Jakarta Utara.

Ada pengalaman menarik ketika ia dan keluarganya terkena banjir di Jakarta pada 2002. Ayah tiga anak itu pernah mengungsikan anak serta istrinya menggunakan truk. Saat itu, anaknya baru berusia 1 tahun dan Veronica Tan, istrinya, sedang terkena demam berdarah dan membawa bayi. Mereka diungsikan memakai truk menuju bandara untuk pulang ke Belitung Timur.

Saat menetap di Industri III Dalam, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Basuki kembali memiliki cerita unik. Ketika bangun tidur, ia kaget mendapati air sudah masuk ke dalam rumahnya. Begitu terkejutnya, ia pun berdiri. Ternyata tempat tidur dari kayu itu mengapung.

Basuki mengatakan, korban banjir menghadapi beragam risiko buruk. Selain ancaman penyakit akibat sampah dan sumber penyakit yang bertebaran, warga juga berisiko tersengat aliran listrik. "Jadi, siapa yang bilang aku enggak mengerti joroknya banjir. Saya ngerti sekali susahnya banjir, aku sudah kenyang lah," kata Basuki. (Kurnia Sari Aziza)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×