kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45873,69   -12,49   -1.41%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bank Indonesia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun 2023 Jadi 2,3%


Kamis, 19 Januari 2023 / 14:19 WIB
Bank Indonesia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun 2023 Jadi 2,3%
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023 akan tumbuh 2,3% secara tahunan. Ini lebih rendah dari perkiraan semula yang sebesar 2,6% secara tahunan. 

"Ekonomi global semakin melambat dari perkiraan sebelumnya, hal ini disebabkan fragmentasi serta pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju," tutur Perry, Kamis (19/1) di Jakarta. 

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Inflasi Hingga Stunting Jadi Fokus Pemerintah Tahun Ini

Perry mengungkapkan, pengetatan kebijakan moneter di negara maju akan menuju puncaknya. Namun, kabar baiknya, saat ini puncak sudah hampir dicapai. 

Hanya saja, dunia akan mengalami suku bunga acuan yang tetap tinggi di sepanjang tahun 2023 atau yang lebih dikenal dengan istilah higher for longer. 

Selain itu, beberapa negara maju juga mengalami risiko resesi. Seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih memiliki risiko tergelincir ke jurang resesi. 

Meski dunia dirundung ketidakpastian, Perry melihat ada beberapa hal yang bisa menahan perlambatan perekonomian global.

Seperti, penghapusan kebijakan zero Covid-19 di China diyakini akan memberi kekuatan pada ekonomi global. 

Kemudian, tekanan inflasi global terindikasi mulai berkurang, sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang menekan permintaan. 

Baca Juga: Simak Strategi BRI Hadapi Ketidakpastian Ekonomi di 2023

Hanya, ini perlu diwaspadai inflasi dari sisi suplai, karena harga energi dan pangan global masih tinggi seiring berlanjutnya gangguan rantai pasok global dan ketatnya pasar tenaga kerja, terutama di AS dan Eropa. 

Dari sisi pasar keuangan, Perry juga melihat angin segar. Ketidakpastian pasar keuangan global mulai berkurang sehingga ada aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia. 

"Dengan demikian, tekanan pelemahan nilai tukar di negara berkembang juga berkurang," tandas Perry. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×