CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.620   54,00   0,31%
  • IDX 6.512   -77,53   -1,18%
  • KOMPAS100 857   -9,52   -1,10%
  • LQ45 649   -7,20   -1,10%
  • ISSI 227   -3,34   -1,45%
  • IDX30 361   -4,02   -1,10%
  • IDXHIDIV20 449   -3,28   -0,73%
  • IDX80 98   -1,12   -1,14%
  • IDXV30 125   -1,04   -0,82%
  • IDXQ30 116   -1,29   -1,10%

Bank Dunia Beri Resep agar Indonesia Segera Keluar dari Middle Income Trap


Jumat, 11 September 2026 / 14:02 WIB
Bank Dunia Beri Resep agar Indonesia Segera Keluar dari Middle Income Trap
ILUSTRASI. Suasana kota Jakarta dengan gedung-gedung tingginya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Chief Economist of the World Bank Group, Indermit Gill menilai Indonesia perlu meningkatkan produktivitas dan efisiensi ekonomi untuk dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap.

Menurutnya, salah satu persoalan utama negara berpendapatan menengah adalah rendahnya efisiensi dalam memanfaatkan berbagai sumber daya ekonomi, mulai dari modal fisik, modal manusia, energi hingga talenta.

"Masalah besar ekonomi berpendapatan menengah adalah bahwa ekonomi tersebut jauh lebih tidak efisien dalam menggunakan modal fisik, modal manusia, dan sebagainya," kata Indermit dalam acara Bappenas-ADBI Joint Conference on Asian Countries' Long Term Development Visions, Rabu (9/9).

Baca Juga: Peluang Indonesia Keluar dari Middle Income Trap Masih Jauh dari Ambang Batas

Ia menjelaskan, negara berpendapatan menengah sebenarnya memiliki modal manusia, modal fisik, infrastruktur, serta sumber daya lainnya. Namun, sumber daya tersebut belum mampu dikonversikan menjadi output secara efisien.

Indermit menggambarkan kesenjangan produktivitas tersebut dengan membandingkan negara berpendapatan menengah dengan Amerika Serikat (AS). 

Menurutnya, apabila negara-negara berpendapatan menengah memiliki tingkat efisiensi seperti negara berpendapatan tinggi dalam mengubah modal menjadi output, output per pekerjanya dapat mencapai sekitar 70% dari AS. Namun, pada kenyataannya, angka tersebut hanya berada di kisaran 20%.

"Perbedaan antara 20% dan 70% tersebut adalah perbedaan produktivitas, yaitu ketidakefisienan," katanya.

Oleh karena itu, ia menilai peningkatan efisiensi menjadi salah satu kunci bagi negara berpendapatan menengah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

Indermit mengatakan peningkatan produktivitas tidak cukup dilakukan hanya dengan menambah modal atau investasi. 

Negara berpendapatan menengah perlu melakukan perubahan struktural agar sumber daya ekonomi dapat dialokasikan kepada sektor dan perusahaan yang lebih produktif.

Ia mencontohkan perlunya mendisiplinkan perusahaan milik negara yang tidak efisien dalam menggunakan sumber daya, termasuk energi, untuk menghasilkan output.

Menurutnya, modal, tenaga kerja, energi, dan sumber daya lainnya perlu bergerak dari perusahaan yang kurang efisien menuju perusahaan yang lebih produktif.

Indermit juga mengingatkan bahwa keberadaan perusahaan yang tidak produktif dapat menghambat perusahaan yang lebih efisien untuk berkembang.

Dirinya mencontohkan kondisi di India, di mana banyak perusahaan yang dinilai tidak memiliki produktivitas tinggi tetap bertahan karena faktor regulasi maupun hubungan dengan pemerintah.

Ketika perusahaan-perusahaan tersebut terus bertahan, lanjutnya, modal, energi, dan talenta tetap digunakan secara tidak efisien. Kondisi itu sekaligus menghambat perusahaan yang lebih produktif untuk berkembang lebih cepat.

Secara khusus, Indermit menilai Indonesia masih terlalu bergantung pada investasi sebagai sumber pertumbuhan.

Dia mengatakan negara seperti Indonesia perlu meningkatkan produktivitas melalui tiga hal, yakni investasi, infusionteknologi, dan inovasi.

"Negara-negara seperti Indonesia seharusnya meningkatkan produktivitasnya secara signifikan," imbuh Indermit.

Infusion yang dimaksud adalah membawa teknologi baru dari luar negeri dan menyebarkannya ke seluruh perekonomian, antara lain melalui perdagangan dan investasi asing.

Menurut Indermit, persoalan utama Indonesia saat ini adalah ketergantungan yang masih besar terhadap investasi, sementara liberalisasi perdagangan, penyerapan teknologi dari luar negeri, dan inovasi belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia menilai penggunaan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga perlu diperluas ke seluruh perekonomian.

Baca Juga: SMI Tunggu Aturan Kemenkeu untuk Skema Pinjaman Pemda, Plafon Belum Final

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×