kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Apindo: Pengusaha tak perlu cemas dengan fasilitas GSP


Selasa, 24 Juli 2018 / 17:54 WIB
ILUSTRASI. Shinta Widjaja Kamdani CEO Sintesa Group


Reporter: Patricius Dewo | Editor: Yudho Winarto

Shinta juga bilang bahwa produk-produk tersebut mencakup 50,23% dan kebanyakan tidak menerima manfaat GSP AS.

“Bahkan untuk kapas, industri kita memiliki komplementaritas yang tinggi sebagai bahan baku industry tekstil yang diekspor kembali ke AS di mana Indonesia merupakan importir terbesar keempat untuk komoditas ini pada 2017 dengan nilai US $ 501,61 Juta atau 8,61% total ekspor AS ke dunia,” katanya.

Kedua adalah, fakta bahwa Indonesia tidak pernah mendiskriminasi AS sebagai mitra Most Favoured-Nation World Trade Organization (WTO) yang sampai sekarang, Indonesia dan AS tidak memiliki perjanjian perdagangan yang digunakan untuk memberikan perlakuan khusus untuk akses pasar baik barang, jasa, maupun investasi.

"Karena itu, Indonesia hanya bisa memberikan AS “fair and equitable treatment” seperti yang diberikan kepada mitra dagang anggota WTO lainnya. Untuk investasi pun, perusahaan mereka terkonsentrasi di bidang pertambangan yang hasilnya dikirim kembali untuk mendorong industri nasional mereka. Investasi di Indonesia, secara umum memiliki pertumbuhan positif dengan pengecualian di pertambangan migas dan batu bara, karena perubahan tren dunia untuk mengonsumsi energi terbarukan,” kata Shinta.

Ketiga, Indonesia menyambut dengan tangan terbuka soal impor, barang, jasa, dan investasi AS yang dibutuhkan. Untuk beberapa produk, Indonesia juga membiarkan didominasi oleh barang impor dari AS.

Salah satunya adalah impor daging babi, di mana Indonesia mengimpor sebesar US$ 1,36 juta daging babi atau 93,8% total impor di 2017. Bahkan selama 10 tahun ini rata-rata impor daging babi asal AS mencapai US$ 1,08 miliar per tahun, di mana pada 2017 bahkan menjadi tahun dengan impor terbesar.

“Hal ini menunjukkan bahwa sertifikasi dan inspeksi atas impor daging babi yang dikeluhkan pengusaha AS tidak memiliki dampak yang signifikan," paparnya.




TERBARU

[X]
×