kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.860   17,00   0,10%
  • IDX 8.199   -66,45   -0,80%
  • KOMPAS100 1.155   -13,03   -1,12%
  • LQ45 828   -11,69   -1,39%
  • ISSI 294   -1,94   -0,65%
  • IDX30 431   -4,60   -1,05%
  • IDXHIDIV20 515   -6,39   -1,23%
  • IDX80 129   -1,50   -1,15%
  • IDXV30 142   -0,74   -0,51%
  • IDXQ30 139   -2,08   -1,47%

Antropolog Prancis sebut transformasi berpotensi memicu ancaman di masa depan


Kamis, 21 Oktober 2021 / 13:31 WIB
Antropolog Prancis sebut transformasi berpotensi memicu ancaman di masa depan
ILUSTRASI. Antropolog Prancis sebut transformasi berpotensi memicu ancaman di masa depan


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Antropolog Prancis Jean Couteau menilai ada ancaman pada masa depan yang disebabkan oleh transformasi.

Beberapa transformasi berjangka panjang, terutama berhubungan dengan manusia dan alam, ketidakseimbangan demografis, pergeseran distribusi kekuatan ekonomi dunia antara kutub raksasa baru di China dan kutub kapitalistik dinamis baru yang berkembang di luar kekuasaan barat.

“Daripada fokus pada transformasi itu sendiri, saya memilih untuk menilai risiko masa depan yang disebabkan oleh transformasi dengan berfokus pada ketahanan wilayah geografis dan budaya yang dipilih di dunia,” kata Couteau saat menjadi narasumber pada the 5th Jakarta Geopolitical Forum 2021 yang mengangkat tema “Culture and Civilization: Humanity at the crossroad” secara daring, seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (21/10).

Menurut Jean, negara barat telah lama berhasil mempertahankan keadaan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi melalui tiga cara. Tiga cara itu adalah di inovasi teknologi, perluasan pasar yang konstan melalui ekspor modal, dan akses berkelanjutan ke tenaga kerja murah melalui imigrasi atau delokalisasi.

Baca Juga: Zebra Nusantara (ZBRA) gandeng LX Internasional untuk perkuat bisnis logistik

Kebijakan-kebijakan tersebut membawa negara-negara barat berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tepat, menjaga harga barang-barang konsumen tetap rendah, dan mempertahankan standar hidup yang tinggi. Namun, kontradiksi yang merusak kebijakan ini telah muncul, yaitu transformasi.

“Ekspor modal telah menciptakan pesaing ekonomi dan strategis yang secara drastis mengurangi daya tawar serikat pekerja,” kata Jean.

Secara budaya, sebagian negara-negara barat telah melepaskan sikap positivistik. Namun ketika kepercayaan akan kemajuan menurun, maka skeptisisme spiritual semakin luas sehingga harapan ideologis berjalan ke segala arah.  Secara politis, hal ini mengkhawatirkan dan dapat menyebabkan krisis yang tidak terduga.

Menurut Jean, Perkembangan ini memiliki konsekuensi politik yang mendalam terhadap impor tenaga kerja asing dan melemahnya serikat pekerja, sehingga menghancurkan kekuatan politik kelas pekerja.

Baca Juga: Komitmen Kemenkeu terus melakukan transformasi pengelolaan keuangan

Di sisi lain, China berhasil dengan sistem ekonomi pasar yang dikelola dengan menciptakan sistem “masyarakat terkelola” yang lengkap, yakni penggabungan ideologi komunis dengan politik. Hal ini membutuhkan kendali yang ketat tas media modern dengan menggunakan kecerdasan buatan dan menekankan batasan kebebasan berekspresi.

Tingkat “otonomi orang” yang dicapai di bawah sistem Tiongkok dapat membebaskan China dari kontradiksi sosial dan gangguan politik yang menghantui negara-negara barat. Hal ini dikarenakan budaya Tiongkok selalu mengutamakan kebaikan bersama di atas individu. 

Komunisme yang bersandar pada analisis radikal barat tentang realitas ekonomi dan sosial, tidak akan berhasil tanpa latar belakang budaya tersebut.

Dalam jangka panjang, lanjut Jean, segalanya akan menjadi lebih sensitif. Tingkat otonomi orang yang disebabkan oleh pembangunan, dapat membuka kontradiksi masyarakat China yang mampu membawa gangguan dan pergolakan politik dengan konsekuensi internasional yang dramatis.

Dunia sedang menuju turbulensi dan krisis iklim sedang berlangsung. Di beberapa kalangan, kesadaran global sedang terbangun seputar isu ekologi dan pemanasan global. Dalam strata yang kurang berpendidikan, ketegangan tentang identitas nasional dan identitas agama mungki meningkat.

“Dengan demikian, dunia mungkin berada di persimpangan jalan antara pencerahan dan kegelapan,” kata Jean.

Oleh sebab itu, Indonesia harus tetap berada di luar pertikaian ekonomi dan budaya yang terjadi di Kawasan Asia yang lebih luas maupun yang sedang dilakukan. Di tingkat Indonesia, perlu mewaspadai perubahan demografis di wilayah multi agama. “Untuk saat ini Indonesia belum keluar dari jalur,” kata Jean.

Selanjutnya: Sektor teknologi sudah mengalami puncak, tidak ada lagi sentimen pendorong kenaikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×