kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.973   60,00   0,33%
  • IDX 5.730   87,08   1,54%
  • KOMPAS100 742   14,13   1,94%
  • LQ45 561   7,80   1,41%
  • ISSI 199   2,71   1,38%
  • IDX30 318   3,44   1,09%
  • IDXHIDIV20 390   1,15   0,30%
  • IDX80 84   1,28   1,55%
  • IDXV30 107   -0,08   -0,08%
  • IDXQ30 102   0,61   0,60%

Aksi jual bursa global masih akan berlanjut, bagaimana nasib Indonesia?


Minggu, 11 Februari 2018 / 16:52 WIB
ILUSTRASI. Bursa AS


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak di pasar finansial yang disebabkan oleh faktor eksternal, yakni shock yang besar di Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berlanjut.

Pekan lalu indeks bursa saham di AS jatuh salah satunya karena data inflasi yang di atas ekspektasi pasar membuat pelaku pasar finansial di AS berspekulasi bahwa US Fed Fund Rate akan naik lebih cepat dari perkiraan semula.

Akibatnya yield dari US treasury naik, membuat adanya inflows dari luar ke AS dan menguatkan dollar AS. Selain itu, ada switching dari alokasi dana di bursa saham AS ke US treasury.

Pengamat ekonomi Eric Sugandi mengatakan, sampai kapan global sell-off ini menekan tergantung bagaimana pergerakan di AS pekan depan.

“Tapi mungkin tidak lama karena kemarin naiknya yield US treasury dan terkoreksinya bursa AS lebih karena spekulasi akan kenaikan Fed Fund Rate,” kata dia kepada KONTAN, Minggu (11/2).

Sementara itu, ekonom Indef Bhima Yudhistira memperkirakan, global sell-off akan lanjut terus sampai akhir Februari karena ada shutdown jilid dua juga di AS.

“Pasar di tahun 2017 terlalu euforia di era Yellen. Sekarang kondisi berubah para investor melakukan koreksi biar saham nya sesuai fundamental. Sambil menunggu arahan Jerome Powell ke depannya,” terang Bhima.

Namun, untuk Indonesia sendiri, menurut Bhima, seharusnya ada sentimen positif dari kenaikan rating Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) dari BBB-/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil pada 8 Februari 2018. Ditambah juga, ada sinyal Moody’s akan upgrade rating Indonesia.

“Cuma tahun politik ini yang bikin investor tahan diri. Jadinya sentimen positif credit rating tidak maksimal,” ujarnya.

Eric juga mengatakan, sentimen positif credit rating tidak maksimal. Sebab ketika ada shock yang besar di AS, pasar finansial Indonesia mau tidak mau terpengaruh.

“Investor asing punya share yang signifikan di bursa saham dan pasar obligasi Indonesia,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×