kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Ahok: Jika setiap warga mematikan egonya, saat itulah Indonesia menuju kejayaan


Senin, 22 Juli 2019 / 21:47 WIB

Ahok: Jika setiap warga mematikan egonya, saat itulah Indonesia menuju kejayaan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyampaikan ucapan terima kasihnya untuk penghargaan Roosseno Award IX. Ahok menilai penghargaan ini mempunyai arti tersendiri bagi dirinya.

“Saya menganggap ini sebagai bagian dari penguasaan diri, seperti yang saya alami di waktu kemarin, di mana saya adalah seorang Gubernur, dalam waktu sekejap kehidupan saya berubah, kalah di pilkada divonis bersalah, langsung masuk tahanan,” tulis Ahok dalam akun instagramnya, Senin (22/7).

Menurutnya, peristiwa saat itu memunculkan kekecewaan dan rasa ketidakadilan, serta merasa dikorbankan. Ahok mengaku harus melewati masa-masa penuh kekecewaan dan amarah tersebut.

Baginya pelajaran yang didapat dari kondisi awal di Mako Brimob adalah dalam kesulitan menyikapinya sebagai “blessing in disguise”.

Baca Juga: Ahok: Saya tak mungkin jadi menteri, Saya sudah cacat di republik ini

“Saya mulai bisa mengusai diri saya, membangkitkan kembali semangat saya. Saya berpikir bahwa ditahan untuk bisa melatih diri dan semakin mengenal Tuhan agar nanti ketika keluar menjadi model bagaimana menjadi manusia yang penuh kasih, damai, sabar, murah hati dan penuh penguasaan diri,” paparnya.

Ahok menuturkan ada prinsip yang dirinya pegang. Pertama, mewujudkan keadilan sosial bagi rakyatnya, bagi Ahok, prinsip terpenting membantu masyarakat adalah mewujudkan keadilan sosial, karena ini sesuai dengan nilai dalam sila kelima Pancasila.

Contoh mewujudkannya, ketika Ahok menjadi Gubernur adalah pemberian KJP, KJS dan KJMU. Melalui program tersebut setiap anak generasi penerus memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, artinya generasi penerus dari satu keluarga yang secara ekonomi kurang mampu memiliki kesempatan memperbaiki kondisi ekonominya agar lebih sejahtera.

Baca Juga: Akan punya program TV, Ahok ingin tiru gaya Jimmy Fallon

Kedua, adalah bekerja tanpa korupsi, “saat ini kita tidak diminta untuk berkorban nyawa seperti masa penjajahan dulu, cukup dengan tidak korupsi.”

Ketiga, tidak kalah penting adalah memaafkan kesalahan masa lalu, harus ada rekonsiliasi nasional bagi seluruh kekhilafan/kesengajaan terjadinya kejahatan kemanusiaan demi kekuasaan, ini harus dilakukan supaya tidak terjebak dalam polemik saling menyalahkan soal masa lalu.

“Karena itu ketika saya dihina, difitnah, dipermalukan dan diperlakukan tidak adil sekalipun, asal untuk kepentingan nasional saya akan tetap tegak berdiri menjalaninya. Jika setiap warga negara rela “mematikan” egonya, kepentingan SARAnya, maka saat itulah Indonesia akan menuju kejayaan,” paparnya.

Baca Juga: Jokowi akhirnya bertemu Prabowo pasca pilpres, sinyal rekonsiliasi?

View this post on Instagram

Terima kasih untuk penghargaan Roosseno Award IX yang diberikan kepada saya. Ini merupakan suatu kehormatan untuk saya. Saya menganggap ini sebagai bagian dari penguasaan diri, seperti yang saya alami diwaktu kemarin, dimana saya adalah seorang Gubernur, dalam waktu sekejap kehidupan saya berubah, kalah di pilkada divonis bersalah, langsung masuk tahanan. Kondisi ini tentu memunculkan kekecewaan dan rasa ketidakadilan, merasa dikorbankan namun akhirnya saya harus melewati masa-masa penuh kekecewaan & amarah tersebut, pelajaran yang saya dapat dari kondisi awal saya di Mako Brimob adalah dalam kesulitan saya menyikapinya sebagai “blessing in disguise”. Saya mulai bisa mengusai diri saya, membangkitkan kembali semangat saya. Saya berpikir bahwa ditahan untuk bisa melatih diri & semakin mengenal Tuhan agar nanti ketika keluar menjadi model bagaimana menjadi manusia yang penuh kasih, damai, sabar, murah hati & penuh penguasaan diri. Mewujudkan keadilan sosial bagi rakyatnya, bagi saya, prinsip terpenting membantu masyarakat adalah mewujudkan keadilan sosial, karena ini sesuai dengan nilai dalam sila kelima Pancasila. Contoh mewujudkannya ketika saya menjadi Gubernur adalah pemberian KJP, KJS dan KJMU, dengan KJP & KJMU maka setiap anak generasi penerus memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, artinya generasi penerus dari satu keluarga yang secara ekonomi kurang mampu memiliki kesempatan memperbaiki kondisi ekonominya agar lebih sejahtera Yang lain adalah bekerja tanpa korupsi, saat ini kita tidak diminta untuk berkorban nyawa seperti masa penjajahan dulu, cukup dengan tidak korupsi. Tidak kalah penting adalah memaafkan kesalahan masa lalu, harus ada rekonsiliasi nasional bagi seluruh kekhilafan/kesengajaan terjadinya kejahatan kemanusiaan demi kekuasaan, ini harus dilakukan supaya kita tidak terjebak dalam polemik saling menyalahkan soal masa lalu. Karena itu ketika saya dihina, difitnah, dipermalukan dan diperlakukan tidak adil sekalipun, asal untuk kepentingan nasional saya akan tetap tegak berdiri menjalaninya. Jika setiap warga negara rela “mematikan” egonya, kepentingan SARAnya, maka saat itulah Indonesia akan menuju kejayaan.

A post shared by Basuki T Purnama (@basukibtp) on


Reporter: Yudho Winarto
Editor: Yudho Winarto

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0294 || diagnostic_web = 0.1673

Close [X]
×