kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Adik Prabowo Soroti Rapuhnya Sistem Pajak Indonesia


Minggu, 14 Desember 2025 / 15:17 WIB
Adik Prabowo Soroti Rapuhnya Sistem Pajak Indonesia
ILUSTRASI. Hashim Djojohadikusumo (KONTAN/Arif Ferdianto). Hashim Djojohadikusumo menyoroti lemahnya sistem perpajakan Indonesia melalui contoh sederhana transaksi di kursi tukang cukur.?


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo menyoroti lemahnya sistem perpajakan Indonesia melalui contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni transaksi di kursi tukang cukur.

Menurutnya, praktik pembayaran tunai tanpa kuitansi mencerminkan besarnya ekonomi gelap (shadow economy) yang belum tercatat dan berdampak langsung pada rendahnya penerimaan negara.

Hashim mengisahkan pengalamannya menggunakan jasa tukang cukur langganannya asal Garut, Jawa Barat.

Setiap kali membayar, transaksi dilakukan secara tunai tanpa pungutan pajak maupun bukti pembayaran.

Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Bongkar Borok Pajak Indonesia: Parah dan Terlemah di Dunia!

Ia bahkan mengakui ikut menjadi bagian dari masalah tersebut karena tidak meminta kuitansi dan membayar secara cash.

"Nah terus terang saja, saya juga ikut bertanggung jawab. Saya salah satu penyebab ekonomi gelap itu. Kenapa? Karena saya pakai seorang tukar rambut, namanya Anton, dari Garut," kata Hashim dalam acara Bedah Buku Indonesia Naik Kelas, Sabtu (13/12).

"Dan selalu kalau saya mau bayar, tau saya bayar apa? Dengan uang tunai, tidak dikuitansi, tidak dipungut (PPN) 11%," imbuhnya.

Menurutnya, praktik semacam ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan gambaran rapuhnya sistem perpajakan nasional.

Data Bank Dunia yang ia ikuti selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa rasio penerimaan negara Indonesia, termasuk pajak, cukai, PNBP, dan royalti masih stagnan di kisaran 9% hingga 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), termasuk yang terendah di dunia.

Hashim membandingkan Indonesia dengan Kamboja. Sepuluh tahun lalu, rasio penerimaan negara Kamboja berada di bawah Indonesia.

Namun kini, Kamboja telah meningkatkan penerimaan negaranya hingga sekitar 18% PDB, sementara Indonesia nyaris tidak bergerak. 

Baca Juga: BNPB Catat Korban Meninggal Bencana Banjir dan Longsor Sumatra-Aceh Capai 1.006 Jiwa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×