kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Ada gejala resesi ekonomi AS, begini komentar BI


Selasa, 26 Maret 2019 / 20:39 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memandang ekonomi Amerika Serikat (AS) masih solid meskipun cenderung bias ke bawah.

"Berdasarkan asesmen dan data terkini pertumbuhan ekonomi AS tetap positif meskipun tidak setinggi perkiraan sebelumnya," jelas Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo kepada Kontan.co.id, Selasa (26/3).

Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 2,25%-2,5%. Kemudian data Departemen Keuangan AS menunjukkan sinyal resesi. Terlihat dari imbal hasil treasury bond bertenor tiga bulan tercatat 2,46% (naik dari 1,73% tahun lalu), sedangkan tenor 10 tahun sebesar 2,43% (turun dari 3,20% dari tahun lalu). Kondisi yang sama seperti pada tahun 2006-2007.

Imbal hasil menggambarkan ekspektasi para investor. Pada kondisi normal, investor lebih senang dengan likuiditas ketimbang faktor keamanan. Sehingga obligasi bertenor pendek lebih diminati dan menyebabkan harga naik, sehingga imbal hasil turun. Sedangkan obligasi tenor panjang tidak diminati, sehingga harga rendah, dan menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.

BI menilai dinamika jangka pendek akan terus mewarnai pergerakan pasar keuangan termasuk saham. Namun, dengan stabilitas yang terjaga dan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap positif, perkembangan pasar keuangan akan tetap kondusif ke depan.

Menurut Dody, BI senantiasa memperhatikan perkembangan yang terjadi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×