: WIB    —   
indikator  I  

Normalisasi Fed, BI: Indonesia masih akan diminati

Normalisasi Fed, BI: Indonesia masih akan diminati

JAKARTA. Wacana penurunan besaran neraca Bank Sentral AS (The Fed) dan dampaknya terhadap pasar keuangan global, menjadi salah satu perhatian Bank Indonesia. Potensi risiko yang berasal dari hal itu menjadi pertimbangan BI untuk menahan kembali BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4,75% dalam rapat dewan gubernur bulan ini.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, saat ini The Fed memegang sekitar US$ 4,5 triliun. Dari jumlah tersebut, US$ 3,5 triliun diantaranya dalam bentuk US Treasury.

Menurut Dody, dengan penurunan neraca tersebut maka The Fed akan melepas surat berharganya sehingga likuiditas di pasar keuangan global akan berkurang. Namun demikian, menurutnya, besaran dampak tersebut juga masih tergantung pada besaran pengurangan neraca yang dilakukan The Fed.

"Statement Yellen ada kemungkinan akan dilakukan secara bertahap. Jadi belum ada waktu yang clear dan yang mana yang akan dilepas, itu juga masih belum di posisi yang clear," kata Dody saat konferensi pers, Kamis (20/4).

Meski valas kembali terserap ke dalam sistem moneter AS, Dody meyakini masih adanya penempatan dana di pasar keuangan negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Sebab, imbal hasil yang diberikan Indonesia saat ini masih menarik pelaku pasar.

"Kami melihat sepanjang fundamentalnya dijaga tetap akan ada aliran dana masuk ke emerging maket dan Indonesia masih diminati dalam konteks return," tambahnya.


Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Barratut Taqiyyah

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x