kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Memahami Kebhinekaan dari kacamata para tokoh-tokoh

Rabu, 09 Mei 2018 / 06:15 WIB

Memahami Kebhinekaan dari kacamata para tokoh-tokoh

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsep Kebhinekaan diharapkan tak hanya menjadi sebuah jargon, tapi harus masuk pada tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebagaimana disampaikan cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat pada acara Dialog Nasional Aplikasi Kehidupan Berbhineka “Kita Adalah Satu Kita Indonesia Kita Pancasila” yang digelar oleh Canisius College Alumni Day 2018 di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Selasa (8/5).

Konsep Kebhinekaan secara wacana di Indonesia sudah diterima dengan baik, tapi harus terus dikembangkan menjadi perilaku. Kebhinekaan dalam bingkai Pancasila menurut Komaruddin adalah konsep yang luar biasa. Masyarakat terus berpartisipasi dalam menjaganya. “Muara Pancasila adalah keadilan, muara agama pun keadilan, dan adil adalah kesempurnaan takwa,” katanya dalam keterangan pers.

Senada dengan Komaruddin, Romo BS Mardiatmadja pun mengatakan, masyarakat Indonesia itu mempunyai energi positif untuk bersatu. Romo Mardi bercerita ia sering keliling Indonesia.

Di situ ia sering menemukan masyarakat yang berbeda-beda. Mulai di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Manado, dan masih banyak lagi. “Perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya begitu tampak,” katanya.

Namun ketika Romo Mardi sedang berada di luar negeri dan bertemu dengan orang-orang Indonesia di sana, ia menemukan kesimpulan yang luar biasa. “Walaupun orang Indonesia di luar negeri itu berbeda suku, setiap mereka bertemu pasti akan berbahasa Indonesia. Di sinilah energi itu tampak, energi untuk saling bersatu begitu kuat,” ceritanya.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Jimly Asshiddiqie juga menegaskan, Indonesia bisa eksis hingga saat ini karena masyarakat sepakat untuk memegang teguh Pancasila. Untuk itu, katanya, kebhinekaan harus terus dirawat sampai kapan pun.

Ia juga menyinggung saat ini ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab mencoba melemparkan narasi-narasi negatif tentang Kebhinekaan. “Untuk itu kita jangan baper (bawa perasaan), kita harus berikan juga narasi-narasi positif dan optimistis,” kata jimly.

Jimly juga menyentil para partisan politik yang menggunakan rumah ibadah untuk kampanye praktis. Padahal, menurut Jimly, ada tiga tempat yang tidak boleh digunakan untuk kampanye politik praktis, “Rumah ibadah, fasilitas pemerintah, serta sarana pendidikan,” terangnya.

Dialog Nasional Aplikasi Kehidupan Berbhineka “Kita Adalah Satu Kita Indonesia Kita Pancasila” yang digelar selama tiga jam tersebut dipandu oleh Najwa Shihab dan juga dihadiri oleh Gubernur PTIK Irjen Polisi R. Sigit Tri Hardjanto, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, dan Yenny Wahid sebagai pembicara dalam acara tersebut.


Reporter: Yudho Winarto
Editor: Yudho Winarto

KRISIS POLITIK

Komentar
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.2621

Close [X]
×