: WIB    —   
indikator  I  

Indonesia unjuk gigi di KTT ASEAN di Filipina

Indonesia unjuk gigi di KTT ASEAN di Filipina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah unjuk gigi dalam KTT ASEAN yang dilaksanakan pekan ini. Dalam forum yang dihadiri banyak negara besar termasuk juga PBB tersebut, pemerintah menyuarakan penyelesaian masalah krusial yang terjadi di belahan dunia saat ini.

Masalah pertama, berkaitan dengan penyelesaian sengketa di Laut China Selatan. Pemerintah ingin agar masalah di kawasan tersebut segera diselesaikan agar tidak mengganggu stabilitas kawasan. Maklum saja, Laut China Selatan saat ini rentan konflik.

China, Filipina, Brunei Darusallam dan Thailand sama- sama mengklaim kawasan tersebut. Presiden Jokowi dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN - Tiongkok ke-20 usul agar China dan Asean segera membuat kode etik, code of conduct tentang Laut China Selatan. Dia ingin agar Asean dan China segera menegoisasikan pembuatan kode etik tersebut.

Kedua, krisis Semenanjung Korea. Agar stabilitas keamanan dan kegiatan ekonomi di kawasan tersebut bisa terwujud, Indonesia mendesak agar Korea Utara segera menghentikan uji coba nuklir. Bukan hanya itu, Indonesia juga mendesak Korea Utara segera mematuhi Resolusi PBB tentang Pelarangan Uji Coba Nuklir.

"Seruan kami sampaikan karena dari sisi politik dan keamanan titik seperti Semenanjung Korea cukup rentan," katanya Selasa (14/11).

Isu ketiga, kemerdekaan Palestina. Di forum tersebut Indonesia menyuarakan kembali kemerdekaan Palestina. Pemerintah mendesak PBB segera melakukan langkah konkrit agar kemerdekaan bisa terwujud.

Presiden Jokowi mengatakan, walau tidak mudah, Indonesia tetap memberikan pesan khusus kepada Sekjen PBB, António Guterres agar mengupayakan kemerdekaan tersebut.

Keempat, penyelesaian krisis kemanusiaan yang menimpa Etnis Rohingya, Myanmar. Pemerintah ingin seluruh anggota Asean bergerak bersama membantu mengatasi krisis kemanusiaan yang menimpa masyarakat Rohingya di Myanmar.

Pemerintah juga meminta negara anggota Asean membantu penderitaan etnis tersebut karena tidak ingin permasalahan di Myanmar tersebut nantinya merembet ke stabilitas keamanan di Asia Tenggara.

Upaya tersebut sedikit membuahkan hasil. Untuk penyelesaian krisis kemanusiaan yang menimpa Etnis Rohingnya misalnya, Amerika, negara yang hadir dalam KTT tersebut mulai memberikan sinyal positif akan membantu penyelesaian masalah tersebut.

Sinyal diberikan saat Menteri Luar Negeri Amerika, Rex W. Tillerson mendadak menemui Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri untuk membahas penyelesaian krisis di rakhine State.

Retno mengatakan, Tillerson ingin bertukar informasi mengenai kondisi terkini di Myanmar karena akan berkunjung ke Myanmar pekan ini untuk mencari solusi penyelesaian tragedi kemanusiaan di negara tersebut.

Selain Amerika, niat untuk menyelesaikan masalah Rohingya juga dinyatakan State Counseulor Myanmar, Ans San Suu Kyi

“Ada tiga poin yang disampaikan Suu Kyi, termasuk diantaranya mengenai kesiapan Myanmar melaksanakan repatriasi pengungsi Rakhine segera setelah MoU dengan pemerintah Bangladesh ditandatangani,” katanya seperti dikutip dari setkab.go.id.


Reporter Agus Triyono
Editor Yudho Winarto

ASEAN

Feedback   ↑ x
Close [X]