kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Wiranto: Dana penelitian harusnya 3% dari PDB


Jumat, 13 Desember 2013 / 23:19 WIB
ILUSTRASI. Kim Tae Ri bersama Song Jong Ki yang turut membintangi film Korea berjudul Space Sweepers yang populer di Netflix.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto mengaku kecewa dengan anggaran untuk penelitian pemerintah yang cuma sebesar 0,08% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sebesar Rp2.210,1 triliun. Ia menilai pemerintah harusnya mengalokasikan lebih dari itu, yakni sekitar 3%.

Wiranto pada acara Debat Kandidat Capres, di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta Selatan, Jumat (13/12), mengatakan dibandingkan negara-negara lain, angka 0,08% atau sekitar Rp 10 triliun itu termasuk kecil. "Israel itu (anggaran penelitiannya) 4,28% dari PDB. Negara kecil ditengah gurun itu bisa mengekspor buah-buahan, karena risetnya maju," kata dia.

Wiranto menyebutkan anggaran Rp 10 triliun itu memang termasuk banyak. Namun demikian jika dibandingkan jumlah penduduk, angka 0,08% termasuk sedikit. Ia kemudian menyebutkan Finland yang mencapai angka 3,96%, Swedia 3,62%, Singapura 2,72%, bahkan China mencapai 1,7%.

Idealnya peningkatan anggaran itu kata Wiranto diberikan bertaham. Ia menyampaikan jika tidak bertahap lembaga penerima anggaran bisa sembarangan memanfaatkan uang itu.

"Kalau tidak bertahap tidak bisa. Seperti dalam (Kementerian) pendidikan (yang alokasinya) 20%. Dikasih (uang) kelabakan dan tidak habis, dan arahnya tidak jelas," kata Wiranto.

Ia mengatakan majunya riset dan penelitian merupakan salah satu parameter negara maju, sehingga negara itu tidak lagi mengandalkan bahan mentah dan buruh murah. Hal itu menurutnya banyak ditemui di negara-negara Eropa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×