Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Ia menilai BI tetap perlu melakukan intervensi untuk meredam volatilitas rupiah. Namun, intervensi tersebut tidak boleh dilakukan secara agresif demi mempertahankan level kurs tertentu.
"Intervensi yang terlalu agresif justru berisiko menguras cadangan devisa tanpa memulihkan kepercayaan pasar," ujarnya.
Josua menambahkan, jika rupiah masih bergerak dalam kisaran proyeksi dasar Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS, dampaknya terhadap cadangan devisa masih dapat dikelola.
Dalam kondisi tersebut, BI cukup menjaga agar pergerakan rupiah tidak terlalu volatil sembari memperkuat daya tarik aset rupiah melalui imbal hasil yang kompetitif, likuiditas pasar yang memadai, dan komunikasi kebijakan yang jelas.
Baca Juga: Rupiah Jisdor Menguat 0,11% ke Rp 17.863 per Dolar AS pada Selasa (2/6/2026)
Di sisi lain, upaya menjaga ketahanan eksternal tidak bisa hanya mengandalkan cadangan devisa sebagai alat pertahanan.
Pemerintah juga perlu memperkuat pasokan valuta asing melalui kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), menjaga kredibilitas fiskal, mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, serta memperbaiki iklim investasi guna menarik lebih banyak aliran modal asing langsung.
Josua memperkirakan cadangan devisa Indonesia masih berada di kisaran US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar pada akhir 2026 dalam skenario dasar.
Namun apabila harga minyak bertahan tinggi, defisit transaksi berjalan melebar, dan arus modal asing keluar semakin besar, cadangan devisa berpotensi turun ke kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 140 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













