kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Waspadai Lonjakan Harga Minyak Efek Perang Israel-Hamas


Rabu, 18 Oktober 2023 / 16:54 WIB
Waspadai Lonjakan Harga Minyak Efek Perang Israel-Hamas
ILUSTRASI. Pemerintah perlu mewaspadai lonjakan harga minyak global efek ketegangan geopolitik di Timur Tengah. REUTERS/Lucy Nicholson 


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah perlu mewaspadai lonjakan harga minyak global efek ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yakni perang antara Israel dan Hamas.

Belum lagi, harga minyak mentah berjangka brent yang saat ini, Rabu (18/10) menguat US$ 1,75 atau 2% menjadi US$ 91,65 per barel.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, dengan berbagai kondisi tersebut maka anggaran subsidi maupun kompensasi pada tahun ini berpotensi jebol atau akan lebih besar dari yang dianggarkan.

Baca Juga: Tak Impor Minyak Mentah Rusia, Pertamina Jajaki Peluang dari Berbagai Negara

"Semua faktor pendorongnya menuju ke arah sana ya baik dari komponen harga minyaknya juga cenderung berada pada level yang tinggi. Kemudian, nilai tukar Rupiah juga stabil ditingkat yang lebih tinggi, belum ada tanda-tanda penguatan signifikan," ujar Komaidi kepada Kontan.co.id, Rabu (18/10).

Dirinya juga melihat ada peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mengingat pada saat ini masih dalam tahap pemulihan menuju endemi.

"Artinya semua faktor yang ada mendorong untuk melampaui kuota maupun nilai subsidi yang ditetapkan," katanya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan antisipasi dalam merespons potensi faktor non fundamental dari pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir. Utamanya akibat konflik geopolitik Timur Tengah yang membuat volume minyak di pasar global digunakan untuk kegiatan perang tersebut.

Baca Juga: Khawatir Harga Minyak Makin Mendidih, Pemerintah Siapkan Cadangan Anggaran dan Energi

"Ini yang perlu diantisipasi oleh pemerintah mengingat nanti juga konsekuensinya kan ke anggaran subsidi. Jadi harus diantisipasi berbagai kemungkinannya," terang Komaidi.

Menurutnya, pada saat pelaku pasar berekspektasi dengan kondisi perekonomian yang tidak baik, maka biasanya akan terjadi pembelian secara berlebihan yang ujungnya juga akan mengerek harga minyak ke level yang tidak wajar.

"Biasanya akan cenderung terjadi pembelian secara berlebihan, mungkin untuk mengamankan pasokan dan lain-lain karena terjadinya perang," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×