kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

UBS: Kenaikan harga BBM positif bagi Indonesia


Selasa, 06 Maret 2012 / 16:46 WIB
ILUSTRASI. Bendera China dan AS berkibar di dekat Bund di Shanghai, China, 30 Juli 2019.


Reporter: Astri Kharina Bangun | Editor: Edy Can

JAKARTA. Executive Director dan Senior Economist UBS ASEAN Edward Teather menilai, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi akan memberi beban inflasi untuk jangka pendek. Namun secara jangka panjang, dia mengatakan, kenaikan harga BBM itu justru berdampak positif bagi Indonesia.

Sebab, dia beralasan alokasi anggaran subsidi BBM bisa dimanfaatkan untuk mendanai pembangunan infrastruktur. “Bila harga BBM terlalu murah maka masyarakat mengonsumsi terlalu banyak bensin. Artinya Indonesia harus mengimpor lebih banyak minyak. Padahal lebih baik memperbesar belanja modal untuk jangka panjang,” ungkapnya dalam UBS Indonesia Conference 2012, Selasa (6/3).

UBS melihat ada kecenderungan inflasi naik pasca kenaikan harga BBM. Hanya saja, Edward menyatakan, kenaikan tersebut tak lantas berdampak buruk pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, UBS menilai saat ini perekonomian Indonesia sedang kuat dan kondisi kredit juga sedang bagus.

Begitu pula minat investor untuk berbisnis di Indonesia pun tetap tinggi. "Bila diminta memilih antara insentif pajak atau infrastruktur maka investor akan memilih infrastruktur sebagai insentif untuk melakukan bisnis di Indonesia," kata Edward.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×