kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Tak berminat nyapres, Risma ingin jadi guru SD


Jumat, 07 Maret 2014 / 20:46 WIB
ILUSTRASI. Havid Febri


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

SURABAYA. Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengaku tidak tertarik untuk mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden pada Pemilu 2014 nanti.

Dia akan menuntaskan masa jabatannya hingga tahun depan. Setelah itu, dia memilih untuk mengajar. "Mengajar di mana saja, SD, SMP, SMA, atau perguruan tinggi, tapi saya kayaknya lebih ingin mengajar di SD," kata wali kota yang diusung PDI-P ini saat berbincang santai di ruang kerjanya, Jumat (7/3/2014) siang.

Kenapa ingin mengajar di sekolah SD? Karena bagi Risma, jenjang SD adalah masa yang paling tepat menanamkan nilai-nilai moral dan agama kepada pelajar. Penanaman nilai moral dan agama itu, kata Risma, sangat penting agar manusia tidak hanya pintar, tetapi juga bermoral.

Menjadi guru, bagi Risma bukan berarti tidak berbuat bagi bangsa dan negaranya. "Untuk berbuat baik, itu tidak harus menjadi pemimpin, jadi apa saja itu bisa berbuat baik, termasuk jadi guru," kata Insinyur lulusan Arsitektur dan Pascasarjana Manajemen Pembangunan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini.

Risma mengaku miris melihat fakta banyaknya anak-anak seusia SD yang tidak beruntung, sehingga tidak dapat bersekolah seperti teman-teman sebayanya. Banyak faktor yang melatarbelakangi seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya.

Karena itu, di bawah kepemimpinannya, realitas sosial di Surabaya semacam itu sedikit demi sedikit akan dikurangi dengan berbagai program seperti sekolah gratis, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penutupan kompleks lokalisasi yang dinilai sebagai akar masalah sosial yang menyebabkan banyaknya anak terlantar akibat keluarga yang tidak harmonis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×