kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.853   31,00   0,17%
  • IDX 6.155   -22,30   -0,36%
  • KOMPAS100 802   -6,88   -0,85%
  • LQ45 604   -5,37   -0,88%
  • ISSI 214   1,34   0,63%
  • IDX30 341   -3,27   -0,95%
  • IDXHIDIV20 418   -3,54   -0,84%
  • IDX80 91   -0,81   -0,88%
  • IDXV30 113   -0,19   -0,17%
  • IDXQ30 109   -1,27   -1,16%

Sri Mulyani: Kondisi ekonomi Indonesia beda jauh dengan Turki


Selasa, 14 Agustus 2018 / 15:28 WIB
ILUSTRASI. Menkeu Sri Mulyani


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali ketar-ketir menghadapi tekanan eksternal. Yang terbaru, krisis ekonomi Turki yang membuat mata uang lira ambruk turut menyeret rupiah di awal pekan ini.

Nilai tukar rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) hari ini, Selasa (14/8), tercatat Rp 14.625 per dollar AS.

Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, kondisi perekonomian Indonesia berbeda jauh dengan Turki. Ia memaparkan, yang paling nyata terlihat salah satunya adalah inflasi Indonesia saat ini 3,18% secara tahunan, sementara Turki sekitar di atas 15% secara tahunan. 

"Perbedaan yang sangat nyata itu inflasi kita. Kalau di Turki sudah di atas 15%. Growth kita 5%, tapi tidak berhubungan dengan CAD (current account deficit) yang tinggi seperti di Turki," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung Dhanapala, Jakarta, Selasa (14/8). 

Sejak awal tahun hingga Selasa (13/8), rupiah melemah 7,8% terhadap dollar AS, sementara lira Turki melemah 40%.

Ia melanjutkan, pemerintah Indonesia juga telah melakukan antisipasi terhadap tekanan dollar AS. Dari sisi fiskal, pemerintah akan melakukan pembiayaan yang berasal dari luar negeri secara hati-hati. 

"Kalau umpamanya ekonomi membutuhkan mata uang asing, kami akan sesuaikan dengan bagaimana strategi pembiayaan kita, termasuk revenue penerimaan yang berasal dari valas juga. Kan kita mendapatkan penerimaan dari sisi oil, gas, itu semua dalam bentuk mata uang asing," jelasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×