kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sri Mulyani Keluhkan Sulitnya Prediksi Harga Komoditas Pangan dan Energi Global


Selasa, 29 Agustus 2023 / 17:55 WIB
Sri Mulyani Keluhkan Sulitnya Prediksi Harga Komoditas Pangan dan Energi Global
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai fluktuasi harga komoditas dunia, baik pangan maupun energi.ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai fluktuasi harga komoditas dunia, baik pangan maupun energi.

Menurutnya, harga komoditas seperti pangan dan energi dunia sulit untuk diprediksi karena volatilitas yang terjadi saat ini dipicu dari kondisi geopolitik dunia, hingga aktivitas perekonomian global yang tidak menentu.

“Harga pangan dan energi sangat bergantung pada aktivitas ekonomi global dan geopolitik. Ini karena sekarang banyak sekali embargo pada produk-produk terutama energi dari suatu daerah atau Kawasan,” tutur Sri Mulyani saat melakukan rapat kerja bersama Banggar DPR RI, Selasa (29/8).

Baca Juga: Menakar Prospek Industri Nikel dan Tembaga di Tengah Krisis Properti China

Dia mencatat harga batubara pada Juli 2023 mengalami penurunan 63,8% year to date (ytd), gas alam turun 38%, dan dan crude plam oil (CPO) turun 15,1%. Sementara harga minyak jenis brent turun 15,1%.

“Ini akan cukup sulit membuat prediksi meskipun trennya relatif mild karena tadi outlook dari ekonomi dunia masih lemah atau stagnan,” katanya.

Meski begitu, Sri Mulyani mencatat kondisi PMI manufaktur RI masih dalam kondisi yang ekspansif selama 23 bulan berturut-turut. Jauh lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain. PMI Manufaktur tersebut didorong meningkatnya permintaan baru baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Sementara, perkembangan kinerja manufaktur beberapa negara mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Jepang mengalami kontraksi masing-masing di level 49,2 dan 49,6. Kemudian, negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Vietnam masih terkontraksi di level 47,8 dan 48,7.

Baca Juga: Krisis Properti China Berdampak pada Emiten Logam, Cek Saham Rekomendasi Analis

Meningkatnya PMI Manufaktur Indonesia di bulan Juli ini menunjukkan optimisme pelaku usaha seiring membaiknya kondisi perekonomian. Secara keseluruhan sentimen pelaku usaha di sektor manufaktur Indonesia tetap positif di Juli 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×