kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Soal intervensi asing, Prabowo dinilai berlebihan


Rabu, 16 Juli 2014 / 18:31 WIB
Soal intervensi asing, Prabowo dinilai berlebihan
ILUSTRASI. Manfaat buah jeruk untuk kesehatan.


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Ari Nurcahyo menilai berlebihan terkait kekhawatiran calon presiden Prabowo Subianto atas intervensi asing terhadap Pemilu Presiden 2014. Menurut dia, wajar jika pihak asing menaruh perhatian lebih pada proses demokrasi yang tengah berlangsung di Indonesia.

“Itu hanya ketakutan yang berlebihan saja kalau menurut saya. Seharusnya tidak perlu sampai sejauh itu. Saya justru melihat bahwa asing mengapresiasi jalannya pemilu di Indonesia karena berlangsung aman dan damai,” kata Ari, Rabu (16/7) seperti dikutip dari Kompas.com.

Ia menambahkan, sekalipun intervensi asing masuk, hal itu hanya bisa terjadi melalui pintu masuk petahana, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal, Partai Demokrat yang dipimpin SBY ikut mendukung Prabowo-Hatta.

Ari menambahkan, kedua kubu harus sama-sama melakukan pengawasan terhadap jalannya pemilu. Jika memang ada intervensi asing yang masuk hingga terjadi kecurangan pemilu, maka mekanisme penyelesaiannya pun telah diatur di dalam undang-undang.

“Jika memang ada bukti kecurangan atau permasalahan dalam pemilu, masih ada proses selanjutnya, yaitu di Mahkamah Konstitusi yang dapat menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

Prabowo kerap berbicara mengenai intervensi asing di berbagai kesempatan. Terakhir, hal itu disinggung Prabowo saat bersilaturahim dengan para pimpinan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Jakarta, Selasa (15/7). (Dani Prabowo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×