Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti meningkatnya risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kini mulai menekan laju pertumbuhan pembiayaan perbankan ke sektor tersebut.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P. Kuantan mengatakan, perlambatan pertumbuhan kredit UMKM tidak terlepas dari meningkatnya risiko NPL yang kini berada di level 4,62% per April 2026, atau semakin mendekati ambang batas aman 5%.
“Jadi karena risiko NPL-nya meningkat, bank menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke UMKM,” ujar Dhaha di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: BI Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,4% YoY Per April 2026, Ditopang Kredit Korporasi
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya daya beli masyarakat, terutama pada segmen menengah ke bawah, yang berdampak pada kemampuan debitur UMKM dalam memenuhi kewajiban kreditnya.
Akibatnya, perbankan cenderung menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih hati-hati (selective lending), sehingga pertumbuhan kredit UMKM tertahan.
BI menilai kondisi ini menjadi perhatian penting, sehingga diperlukan berbagai kebijakan untuk kembali mendorong pembiayaan UMKM, termasuk penguatan kebijakan makroprudensial dan program penguatan pembiayaan sektor riil.
“Ini menjadi concern kita bagaimana mendorong kembali pertumbuhan UMKM, termasuk melalui penguatan kebijakan dan instrumen seperti RTIB,” kata Dhaha.
Ia menambahkan, ke depan, dukungan dari berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta program Koperasi Desa (KDMP) diharapkan dapat memperbaiki kondisi UMKM pada 2026.
Dengan perbaikan tersebut, perbankan diharapkan kembali lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke sektor UMKM.
Sementara itu, BI mencatat penyaluran kredit UMKM pada April 2026 hanya tumbuh 0,2% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,1% yoy.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit usaha mikro yang tumbuh 0,7% yoy. Namun, kredit usaha kecil masih terkontraksi 0,2% yoy, dan kredit usaha menengah terkontraksi 0,4% yoy.
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit UMKM terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 10,1% yoy. Sebaliknya, kredit modal kerja UMKM masih mengalami kontraksi 4,1% yoy.
BI menegaskan, penguatan pembiayaan UMKM ke depan perlu terus didorong seiring dengan peran strategis sektor tersebut dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Baca Juga: Transaksi LCT Melonjak 309%, BI Segera Perluas ke Singapura, India dan Arab Saudi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












