Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra seiring melonjaknya transaksi penggunaan mata uang lokal yang telah menembus US$ 22,61 miliar hingga April 2026.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama mengatakan, penguatan LCT menjadi semakin penting di tengah dinamika global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurut Ruth, dalam waktu dekat BI akan segera memperluas implementasi LCT dengan Singapura, India, dan Arab Saudi setelah penyusunan dan penyepakatan operational guidelines rampung dilakukan.
“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” ujar Ruth dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Masyarakat Diminta Tidak Panic Buying Dolar AS, BI: Bisa Menekan Rupiah
Sebagai informasi, LCT merupakan skema transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing negara untuk perdagangan, investasi, dan kegiatan usaha tanpa melalui dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang perantara.
Dalam skema tersebut, transaksi dilakukan melalui bank Appointed Cross Currency Dealers (ACCD), sehingga pelaku usaha dapat melakukan pembayaran maupun menerima transaksi langsung menggunakan mata uang lokal seperti rupiah, yuan China, yen Jepang, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, hingga riyal Saudi.
BI mencatat, volume transaksi LCT hingga April 2026 mencapai US$ 22,61 miliar atau melonjak 309% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 7,33 miliar.
Sejalan dengan itu, jumlah pelaku LCT juga terus meningkat menjadi 5.265 pelaku per bulan pada 2026. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
“Volume LCT ini naik tajam. Mudah-mudahan baik volume maupun pelakunya terus meningkat,” katanya.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Dolar, BI Perluas Kerja Sama LCT dengan Negara Mitra
Ruth menyebut, Tiongkok masih menjadi negara mitra utama implementasi LCT Indonesia dengan kontribusi transaksi mencapai 89%. Adapun Jepang dan Malaysia masing-masing berkontribusi sebesar 6% dan 3%.
Menurut Ruth, peningkatan penggunaan mata uang lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan antarnegara.
“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi kalau bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan dolar AS sebagai mata uang perantara membuat pelaku usaha harus menanggung biaya konversi ganda atau cross rate yang dinilai kurang efisien.
“Kalau cross rate itu biasanya IDR ke US Dollar dulu baru ke mata uang negara tujuan. Itu pasti kena dua kali rate,” imbuhnya.
Baca Juga: BI: Dominasi Transaksi Valas di Pasar Spot Bikin Rupiah Rentan Goyah
Selain untuk perdagangan dan investasi, BI juga mendorong pengembangan konektivitas LCT melalui QRIS Cross Border guna memperluas transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal.
Saat ini Indonesia telah memiliki kerja sama LCT dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA). Skema ini pertama kali diimplementasikan BI sejak 2018.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













