kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.011,63   -3,01   -0.30%
  • EMAS962.000 0,73%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Risiko Fatalitas Omicron Juga Ancam Anak-anak, Bukan Hanya Lansia dan Komorbid


Senin, 24 Januari 2022 / 06:10 WIB
Risiko Fatalitas Omicron Juga Ancam Anak-anak, Bukan Hanya Lansia dan Komorbid
ILUSTRASI. Risiko mengalami gejala berat hingga kematian akibat Omicron juga mengancam anak-anak. KONTAN/Carolus Agus Waluyo


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fatalitas atau risiko mengalami gejala berat hingga kematian akibat tertular Covid-19 varian Omicron tak hanya mengancam lansia dan orang dengan komorbid saja, namun juga anak-anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman.

Dicky menegaskan, sejatinya varian Omicron sama bahayanya dengan varian lain yang lebih dahulu ada, seperti Delta dan Alpha, atau bahkan virus asli yang pertama kali muncul di Wuhan, China, pada akhir 2019 lalu. 

"Di mana dia memang akan lebih banyak berisiko pada orang yang punya komorbid atau lansia, atau belum divaksinasi lebih mungkin mengalami fatalitas atau meninggal. Dan antara lain sekarang ini kita baru melihatnya pada lansia, nanti kalau kita tidak cepat melakukan mitigasi, kematian pada anak akan terjadi," kata Dicky ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (23/1/2022). 

"Ini saya sampaikan, artinya kita akan mendapat berita seperti itu sebagaimana terjadi juga di luar negeri atau di negara lain," jelas Dicky. 

Baca Juga: 2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Ini Gejala Penderita yang Harus Dilarikan ke RS

Berdasarkan data terakhir Kemenkes, total cakupan vaksinasi dosis pertama untuk lansia mencapai 71,29 persen. Sementara, untuk lansia yang telah mendapatkan vaksinasi dosis kedua sebesar 46,41 persen dari target sebanyak 21.553.118. 

Adapun untuk masyarakat rentan dan umum, total capaian vaksinasi dosis pertama sebanyak 72,16 persen dan vaksinasi dosis kedua sebesar 49,60 persen dari target 141.211.181 penduduk yang divaksinasi. 

Di sisi lain, pemerintah sendiri baru saja memulai program vaksinasi anak usia 6-11 tahun. 

Baca Juga: Data Corona Indonesia, 23 Januari: Tambah 2.925 Kasus Baru, Ada 18.891 Kasus Aktif

"Anak-anak dari usia 6 tahun ke atas baru dimulai dan masih banyak yang belum divaksin penuh termasuk untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun," kata Dicky. 

Untuk itu, ia pun mendorong pemerintah untuk menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen yang saat ini sudah berjalan di berbagai daerah. 

Ia menyarankan, setidaknya PTM bisa ditunda pada akhir Januari ini hingga awal Maret mendatang. 

"Itu di masa yang sangat rawan, karena itu periode prediksi masa krisis di Indonesia, Februari-Maret. Mengapa? Karena untuk siswa kita ini, meskipun sudah ada vaksinasi pada siswa, tapi kan ada yang belum divaksinasi, dan saat ini risiko ini cukup berat untuk anak-anak dan terbukti di negara-negara lain data menunjukkan kasus infeksi anak-anak meningkat," jelas Dikcy.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tak Hanya Pasien Lansia dan Komorbid, Risiko Fatalitas Varian Omicron Juga Mengancam Anak-anak"
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Dani Prabowo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×