kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%

NVIDIA Pilih Johor, Ekonom Soroti Tantangan Investasi Teknologi di Indonesia


Selasa, 06 Januari 2026 / 16:57 WIB
NVIDIA Pilih Johor, Ekonom Soroti Tantangan Investasi Teknologi di Indonesia
ILUSTRASI. NVIDIA dikabarkan memilih Johor, Malaysia sebagai lokasi ekspansi bisnis teknologi di kawasan Asia Tenggara, ketimbang Indonesia.


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Raksasa teknologi NVIDIA dikabarkan memilih Johor, Malaysia sebagai lokasi ekspansi bisnis teknologi ketimbang Indonesia. Keputusan ini kembali menyoroti pertanyaan klasik yakni mengapa perusahaan teknologi global cenderung melewatkan pasar terbesar di Asia Tenggara, padahal potensi pasar Indonesia sangat besar.

Menurut Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, pilihan investor masih dipengaruhi sejumlah faktor tradisional yang menjadi keunggulan Malaysia dibanding Indonesia.

“Satu dari sisi infrastruktur, termasuk digital dan telekomunikasi, lalu transportasi, Malaysia lebih unggul. Ketersediaan tenaga kerja terampil juga menjadi pertimbangan penting bagi investasi di bidang digital,” ujar Faisal kepada Kontan, Selasa (6/1/2025).

Baca Juga: Update BNPB: Korban Meninggal Bencana Sumatera Capai 1.178 Orang

Ia menambahkan, kemudahan berinvestasi atau ease of doing business, termasuk prosedur perizinan yang lebih sederhana, juga membuat Malaysia lebih menarik bagi investor asing.

Faisal menekankan pentingnya kepastian hukum dan kebijakan, yang menurutnya masih menjadi tanda tanya di Indonesia. 

“Seiring pergantian kepemimpinan, concern terhadap kepastian kebijakan meningkat. Hal ini tercermin dari turunnya ranking competitiveness, salah satunya disebabkan oleh government effectiveness. Investasi asing di 2025 bahkan tercatat kontraksi minus 1%, sementara investasi dalam negeri justru tumbuh 9%. Ini menjadi catatan penting karena investasi asing adalah kunci mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Fenomena serupa sebelumnya juga terlihat saat Apple memilih Vietnam untuk beberapa rantai produksinya, meski Indonesia memiliki pasar besar. Faisal menekankan, agar Indonesia lebih menarik bagi perusahaan teknologi, pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur digital, ketersediaan tenaga kerja terampil, kepastian hukum, serta kemudahan prosedur investasi.

“Investasi di sektor digital memiliki potensi besar, tapi tantangannya tetap ada. Jika tidak diperbaiki, Indonesia bisa terus kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam,” tutup Faisal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×