kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

PMA yang paling banyak dibatalkan dari Korsel


Kamis, 19 Maret 2015 / 14:40 WIB
PMA yang paling banyak dibatalkan dari Korsel
ILUSTRASI. penyakit batu empedu atau cholelithiasis adalah kondisi yang ditandai dengan sakit perut mendadak akibat terbentuknya batu di dalam kantung empedu.


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA.  Dari 6.541 surat persetujuan/izin Penanaman Modal Asing (PMA) yang dibatalkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), paling banyak berasal dari Korea Selatan (Korsel). Sekitar 20% dari izin PMA yang dibatalkan memang berasal dari Korsel.

Adapun nilai investasi asal Korsel yang dibatalkan itu mencapai US$ 4,6 miliar. Sementara negara-negara lainnya yang paling besar mendapat pembatalan diantaranya China, Malaysia, Sibgapura, dan Australia.

Dengan nilai investasi masing-masing sebesar China US$ 1,9 miliar, Malaysia US$ 1,61 miliar, Singapura US$ 1,79 miliar. "Meski dari sisi jumlah izin paling banyak berasal dari Korsel, dari sisi nilai malah PMA dari Saudi Arabia," ujar Kepala BKPM Frakny Sibarani, Kamis (19/3) di Jakarta.

Sebagai informasi, nilai investasi PMA dari Saudi Arabia mencapai US$ 5,16 miliar. Selama ini, investasi dari Saudi kebanyakan di sektor industri pertambangan.

Adapun jika dilihat dari sektornya, paling banyak yang dibatalkan berada di sektor perdagangan serta sektor reparasi sebanyak 945 izin atau sebanyak 30%. Sektor lainnya adalah pertambangan 20%, jasa lainnya 12%, hotel dan restoran 6%, industri logam daar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar 5% dan sektor lainnya 27%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×