kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.903   -16,00   -0,09%
  • IDX 7.693   115,94   1,53%
  • KOMPAS100 1.075   16,36   1,55%
  • LQ45 784   11,52   1,49%
  • ISSI 272   4,37   1,63%
  • IDX30 417   7,00   1,71%
  • IDXHIDIV20 511   8,59   1,71%
  • IDX80 121   1,63   1,37%
  • IDXV30 138   1,86   1,36%
  • IDXQ30 134   2,22   1,68%

PHK Kembali Berlanjut, Dikhawatirkan Akhir 2025 atau Awal 2026 Terjadi Krisis


Minggu, 02 Maret 2025 / 17:31 WIB
PHK Kembali Berlanjut, Dikhawatirkan Akhir 2025 atau Awal 2026 Terjadi Krisis
ILUSTRASI. Pekerja menyelesaikan produksi pakaian jadi di pabrik PT Kasih Karunia Sejati atau Emba Jeans, Malang, Jawa Timur, Jumat (5/7/2024). Pemerintah dinilai tak serius menangani persoalan lapangan kerja terlihat dari keluarnya izin impor tekstil yang izinkan produk China masuk.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengamat Ketenagakerjaan Universtas Gadjah Mada (UGM) Tadjudin Nur Effendi mengatakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) marak terjadi sejak tahun lalu hingga awal tahun 2025 ini bakal berdampak pada perekonomian.

Menurut Tadjudin, PHK yang terjadi ini menunjukkan pemerintah tidak serius menangani persoalan di tengah masyarakat.

Hal ini terbukti dari keluarnya izin impor tekstil yang memperbolehkan produk China masuk sehingga memberangus produksi dalam negeri.

“Gara-gara impor tekstil, dan adanya pasar gelap tekstil masuk ke Indonesia, itu yang menyebabkan pabrik tekstil kemudian banyak gulung tikar,” ujarnya saat dihubungi KONTAN, Minggu (2/3).

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Melemah di Awal Pekan Kedua Oktober, Cermati Saran Analis

Tadjudin mengungkapkan, barang-barang impor yang masuk itu menilik harga yang jauh lebih murah sehingga produk tekstil tanah air tanah tak mampu bersaing. Alhasil, perusahaan tak kuasa menahan beban hingga terjadilah PHK.

Menurutnya, kondisi PHK menjadi salah satu penyebab daya beli masyarakat menurun, di mana berdasarkan catatannya telah merosot sejak enam bulan lalu.

Di sisi lain, lanjut Tadjudin, kondisi politik Indonesia yang tak menentu, ditambah penegakan hukum yang tak serius apalagi banyak kasus korupsi, ini membuat investor berfikir kritis dalam membenamkan modalnya.

“Investor yang mempunyai pabrik di Indonesia itu mikir, ini kalau begini-begini terus ya mereka akan terancam. Dan kondisi politik kita terus tidak menentu seperti ini. Dan kebijakan-kebijakan kelihatannya banyak yang tidak masuk akal,” ungkapnya.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Lanjut Melemah di Awal Pekan

Lebih lanjut, Tadjudin menambahkan, bila kondisi ini terus berlanjut dan tak ada perbaikan secara serius dari pemerintah, di khawatirkan pada akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026 Indonesia bakal mengalami krisis.

“Ini kalau tidak ada kebijakan yang segera bisa mengangkat situasi ini, ya akan berlanjut (PHK). Saya khawatir di akhir tahun 2025 atau di awal 2026, kita bisa mengalami krisis,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×