Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Afaga Hudaya mengatakan, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal III 2026 masih menyisakan sejumlah persoalan.
Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Afaga, persoalan utama bukan terletak pada perbandingan efek basis rendah (low base effect). Sebab, jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 yang sebesar 5,04% yoy, capaian pada kuartal III 2026 dinilai menunjukkan basis yang normal.
Baca Juga: Pengangguran Turun Tak Otomatis Sejahterakan Pekerja, Ini Alasannya
Hanya saja, kualitasnya pertumbuhan ekonomi belum merata yang membuat sebagian masyarakat masih merasa kondisi ekonominya belum membaik atau justru semakin tertekan.
"Namun mengapa masyarakat masih merasa bahwa kondisi ekonominya masih tertekan? Hal ini karena pertumbuhan ekonomi belum merata," ujarnya dalam diskusi Indef, Kamis (5/11/2026).
Salah satu indikasinya terlihat dari kinerja sektor pertanian yang hanya tumbuh 0,46%. Padahal, sektor ini menampung sekitar 28,20% tenaga kerja nasional.
"Artinya, pekerja yang menjadi kelompok terbesar ini nyaris belum ikut menikmati kue pertumbuhan ekonomi," lanjut Afaga.
Selain itu, kenaikan harga pangan juga menjadi persoalan yang memengaruhi kualitas pertumbuhan ekonomi. Afaga mencatat, inflasi pangan masih bergejolak dan mencapai 5,81% pada Oktober 2026. Bahkan, harga beras medium sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menurutnya, kenaikan harga pangan memberikan tekanan lebih besar kepada rumah tangga miskin karena kelompok masyarakat tersebut memiliki porsi pengeluaran untuk makanan yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
"Sehingga rumah tangga miskin menjadi kelompok yang paling terpukul ketika harga pangan meningkat," pungkasnya.
Afaga menambahkan, adanya sinyal pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari inflasi inti yang turun menjadi sekitar 2,56%. Kondisi tersebut mengindikasikan masyarakat cenderung menahan belanja nonpangan karena pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan semakin besar.
Baca Juga: KAI Siapkan Pembangunan Kereta di Bali, Anggaran Tembus Rp 2 Triliun
Persoalan kualitas pertumbuhan ekonomi juga perlu dicermati dari sisi produksi pangan. Afaga menyebut, produksi pangan mengalami penurunan pada Oktober.
"Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan potensi penurunan pada produksi pangan sekitar 16,3% (Oktober-Desember) akibat fenomena El Nino. Jadi risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi (kuartal IV)," ujarnya.
Ditambah lagi tekanan harga menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), mengingat permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan berpotensi meningkat sehingga memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi.
Di sisi lain, tantangan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2026 juga berasal dari efek basis yang relatif tinggi. Pasalnya, ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh sebesar 5,39% secara tahunan.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Afaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2026 berpotensi melambat ke kisaran 5%.
Bahkan, tekanan dari sisi produksi pangan diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027.
"Sinyal-sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah sangat kuat. Karena itu, pemerintah harus segera mengantisipasinya sejak sekarang melalui langkah-langkah untuk meminimalkan berbagai risiko tersebut," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
