kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Penjelasan Sri Mulyani soal penegakan hukum pidana untuk para pengemplang pajak


Selasa, 14 Desember 2021 / 14:20 WIB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani saat sosialisasi Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), Selasa (14/12) di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

Kalau dalam UU HPP, Pemerintah lebih memerinci hukuman apa yang pantas didapatkan oleh para pengemplang pajak sesuai dengan dosa pajak yang diperbuatnya. 

Pertama, untuk perbuatan pidana pajak kealpaan wajib membayar pokok pajak plus sanksi 1 kali pajak kurang dibayar. 

Baca Juga: Sri Mulyani kerek tarif cukai rokok lagi, ini harapan produsen rokok

Kedua, untuk pidana pajak kesengajaan, wajib membayar pokok pajak plus sanksi 3 kali pajak kurang dibayar. 

Ketiga, untuk pidana pajak pembuatan faktur pajak atau bukti potong Pajak Penghasilan (PPh) fiktif, wajib membayar pokok pajak dengan sanksi 4 kali pajak kurang dibayar. 

“Jadi dibedakan karena memang ada yang kelewatan (membayar pajak) karena mungkin dia sibuk. Tapi ada yang niat banget untuk tidak membayar. Yang niat banget ini harus diberi hukuman lebih,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×