kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pengamat: Kenaikan dan Kelangkaan Beras Bukan Karena Bansos


Jumat, 16 Februari 2024 / 16:42 WIB
Pengamat: Kenaikan dan Kelangkaan Beras Bukan Karena Bansos


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Polemik beras di dalam negeri tak kunjung usai. Bukan hanya soal harga yang tinggi, belakangan beberapa ritel modern bahkan mulai kehabisan stok. 

Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan masifnya penyaluran bantuan sosial beras yang disalurkan oleh pemerintah yang diduga menjadi salah satu penyebab kelangkaan dan kenaikan harga beras. 

Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kelangkaan dan kenaikan harga beras awal tahun ini terjadi bukan karena bansos dari pemerintah. 

Baca Juga: Jokowi: Bantuan Beras Akan Diberikan Hingga Pertengahan Tahun 2024

Menurutnya hal ini sulit dibuktikan mengingat ada kondisi kritis lainya seperti defisit produksi beras yang mencapai 2,8 juta ton di awal tahun. Kemudian, banyaknya agenda besar pada awal tahun ini mulai dari Pemilu hingga Lebaran yang akan memantik kenaikan permintaan beras. 

"Jadi, menurut saya, sulit memastikan bahwa kenaikan harga beras atau beras menghilang di ritel modern, karena bansos,"  jelas Khudori pada Kontan.co.id, Jum'at (16/2). 

Khudori mengatakan kondisi beras saat ini memang krusial karena ada ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Terlebih panen besar diprediksi baru terjadi pada Maret ini dengan surplus yang diperkirakan mencapai 0,97 juta ton. 

Hanya saja, menurutnya surplus ini juga akan menjadi rebutan banyak pihak terutama untuk mengisi jaring-jaring distribusi yang sebelumnya kering karena paceklik. 

"Ini memang krusial, Maret ada Ramadan dan April ada Idulfitri, Penting buat pemerintah untuk memastikan pasokan beras dalam jumlah memadai. Jika tidak, harga potensial naik dan bisa menimbulkan kegaduhan, bahkan berdampak ke soal sosial-politik," jelas Khudori. 

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga membantah kelangkaan dan kenaikan harga beras ini disebabkan oleh program bagi-bagi beras oleh pemerintah. 

Sebaliknya, menurutnya bantuan pangan beras ini justru ampuh menekan harga beras. Kondisi saat ini, lanjutnya, karena ada keterlambatan distribusi yang dikarenakan oleh banjir di beberapa wilayah seperti di Demak dan Grobogan. 

"Tapi saya kira sudah diselesaikan lewat pengiriman dari Bulog juga ke daerah, Bulog ke Pasar Induk Cipinang," kata Jokowi dalam keteranganya, Jum'at (16/2). 

Baca Juga: Pastikan Ketersediaan Beras, Bulog Gencarkan Distribusi Beras SPHP

Untuk itu, menurutnya pasokan beras akan kembali membanjiri pasar dalam waktu dekat. Pihaknya juga menargetkan harga beras akan kembali turun dalam waktu satu, dua minggu kedepan. 

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Jum'at (16/2), harga beras premium naik tipis 0,25% menjadi Rp 15.940/kg dan beras medium naik 0,14% menjadi Rp 13.970/kg. 

Namun begitu, harga beras tersebut melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan pemerintah dalam Peratiran Badan Pangan Nasional (Perbadan) No 7 tahun 2023 sebsar Rp 13.900-Rp 14800/kg untuk beras premium dan Rp 10.900-11.800/kg untuk beras medium. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×