kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Pengacara: Ada lompatan prosedur penahanan Atut


Jumat, 20 Desember 2013 / 17:56 WIB
ILUSTRASI. Pegawai melintas di dekat monitor pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/12/2021). IHSG hari ini diramal menguat, analis beri rekomendasi saham. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Tim Kuasa Hukum Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Firman Wijaya klaim ada lompatan prosedural dalam penahanan kliennya hari ini. Menurut Firman, pemeriksaan yang dijalani Atut sebelum dilakukan penahanan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), belum sampai pada pertanyaan substansi.

"Menurut kami pemeriksaan belum proporsional terhadap posisi klien kami. Belum masuk substansi atau materi. Ini yang menjadi persoalan kami, kenapa klien kami harus ditarget-target," kata Firman di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (20/12).

Lebih lanjut Firman mengatakan, pihaknya juga merasakan ada hal yang yang menurutnya kurang wajar dalam penahanan kali ini. Bahkan menurut Firman, ada upaya-upaya penargetan terhadap proses hukum yang dijalani kliennya. Meski demikian, pihaknya tetap menghormati keputusan KPK hari ini.

"Tapi sudah lah, kami hari ini terpaksa sudah menerima apa pun kewenangan KPK. Kalau memang itu kata KPK kewenangannya, harus kita hormati. Dan tentunya, karena kami juga meminta ditempatkan di Rutan Pondok Bambu, ya kami hormati itu," tambah dia.

Atut ditahan usai menjalani pemeriksaan selama tujuh jam oleh KPK. Atut ditahan untuk 20 hari pertama di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta. Atut ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara Pilkada Kabupaten Lebak, Banten di Mahkamah Konstitusi (MK). Atut diduga turut serta secara bersama-sama dengan adiknya, Tubagus Chaeri Wardana turut serta menyuap mantan Ketua MK Akil Mochtar terkait perkara tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×