kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.110   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

Pemerintah usul defisit anggaran 2,2%-2,4%


Sabtu, 03 Maret 2012 / 09:44 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi. Air kelapa bermanfaat menurunkan dan mengontrol kadar asam lambung.


Reporter: Herlina KD | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Pemerintah mengusulkan besaran defisit dalam RAPBNP 2012 sebesar 2,2% - 2,4% dari GDP. Untuk menambal defisit ini, salah satunya pemerintah akan menambah penarikan pinjaman melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp 40 triliun - Rp 50 triliun.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan dalam RAPBNP pemerintah mengusulkan defisit anggaran sebesar 2,2% plus minus 0,2%. Sehingga, pemerintah akan menambah pembiayaan dari optimalisasi penerimaan negara, penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan menambah utang melalui penerbitan SBN. "Kalau pembiayaan tambahan saya rasa tidak akan lebih dari Rp 40 triliun - Rp 50 triliun," ujarnya Jumat (3/3).

Catatan saja, dalam APBN 2012 pemerintah merencanakan penerbitan SBN neto sebesar Rp 134,5 triliun. Sedangkan target penerbitan bruto sebesar Rp 212,75 triliun.

Sayangnya, Agus bilang pemerintah belum menentukan apakah penerbitan SBN tambahan ini nantinya dalam bentuk rupiah atau valuta asing (valas). Tapi, "Akan lebih mengarah ke rupiah," katanya.

Pembiayaan tambahan ini, kata Agus juga disebabkan karena adanya pos pembiayaan tambahan seperti adanya kementerian baru. Agus mencontohkan, setelah reshuffle kabinet Indonesia bersatu Oktober lalu, pemerintah memiliki kementerian baru yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang juga membutuhkan fasilitas pendanaan.

Selain menerbitkan SBN tambahan, Agus bilang pemerintah akan menggunakan SAL untuk stimulus melalui perbaikan infrastruktur. "Kami juga merespons asumsi yang sudah berubah, yang membuat kami harus mengelola subsidi dengan lebih baik," kata Agus.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan saat ini pinjaman dari pasar SUN domestik maupun internasional lebih murah ketimbang pinjaman komersial. "Indonesia sudah investment grade, kami lihat biaya (pinjaman dari penerbitan SUN) lebih murah dibanding dengan pinjaman komersial perbankan luar negeri," jelasnya baru-baru ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×