kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.823   -5,00   -0,03%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pemerintah Sambut Baik Peluang Swap Arrangement AS


Kamis, 19 Februari 2009 / 14:32 WIB
Pemerintah Sambut Baik Peluang Swap Arrangement AS


Reporter: Hans Henricus B | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Indonesia menyambut baik niat Amerika Serikat (AS) menjajaki peluang membantu keuangan Indonesia lewat fasilitas dana untuk cadangan devisa (bilateral swap arrangement) dan dana siaga (contingency fund).

Bahkan, jika tak ada aral melintang Indonesia ingin Negeri Paman Sam itu mengupayakan nilai bilateral swap arrangement di atas komitmen swap arrangement Jepang, Korea Selatan, dan China dalam Chiang Mai Initiative yang totalnya mencapai US$ 12 miliar.

"Kami tidak bicara angka, tapi dari sisi swap arrangement dalam Chiang Mai Initiative, Indonesia bisa mendapatkan US$ 12 miliar, dengan Amerika Serikat nanti kami lihat, pokoknya anything above di situ pasti sangat baik," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai mendampingi Presiden bertemu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Jakarta Kamis (19/2).

Asal tahu saja, dalam Chiang Mai Initiative, Jepang, Korea Selatan dan China berkomitmen membantu pemulihan ekonomi ASEAN. Bentuk bantuan itu lewat bilateral swap arrangement. Khusus untuk Indonesia, Jepang berkomitmen sebesar US$ 6 miliar, sedangkan RRC dan Korea Selatan masing-masing sebesar US$ 4 miliar dan US$ 2 miliar.

Sri Mulyani mengatakan, krisis finansial global saat ini sangat mempengaruhi likuiditas dan stabilitas mata uang seluruh negara termasuk Indonesia. Oleh karena menurutnya penting bagi Indonesia mendapat dukungan AS untuk menopang cadangan devisa. "Amerika Serikat merupakan negara yang bisa menyalurkan dolar lebih banyak karena memang negara itu yang mencetak dolar," jelas Sri Mulyani

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×