kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Pemerintah Resmi Kerek Harga Gabah Rp 6.500/kg dan Jagung Rp 5.500/kg


Senin, 30 Desember 2024 / 22:24 WIB
Pemerintah Resmi Kerek Harga Gabah Rp 6.500/kg dan Jagung Rp 5.500/kg
ILUSTRASI. Pekerja menjemur gabah di salah satu tempat penggilingan padi di Margaluyu, Kasemen, Kota Serang, Banten, Rabu (13/11/2024). Pemerintah resmi menikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung di tingkat petani dalam ratas yang dipimpin presiden.


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan jagung di tingkat petani. 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani ditetapkan menjadi Rp 6.500/kg dari sebelumnya Rp 6.000/kg. Sementara HPP jagung ditetapkan menjadi Rp 5.500/kg dari sebelumnya Rp 5.000/kg. 

"Harga gabah disepakati naik dari 6000/kg menjadi 6.500/kg. jagung disepakati naik 5.000/kg menjadi 5.500/kg," urai Zulhas dalam konferensi pers di Istana Negara, Senin petang (30/12). 

Selain itu, Zulhas menegaskan dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu juga ditetapkan bahwa setiap panen gabah dan jagung milik petani dipastikan akan diserap oleh Bulog. 

Pemerintah juga menjamin terkait harga layak yang akan didapatkan oleh petani. "Pendek kata, keputusan Presiden berapapun panen gabah dan jagung akan dibeli sesuai dengan HPP," ujarnya. 

Dalam kesempatan itu, Zulhas juga menyampaikan komitmen pemerintah untuk menghentikan impor beras di tahun depan. Dirinya mengatakan bahwa keputusan ini bukan tanpa perhitungan.

Menurutnya hal ini mengacu pada data bahwa potensi produksi beras pada Januari mendatang akan naik menjadi 1,3 juta ton dari sebelumnya 0,8 juta ton, dan Februari akan naik menjadi 2,08 juta ton dari sebelumnya 0,8 juta ton. 

"Selain beras kita memutuskan tidak impor jagung, gula konsumsi dan garam," pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×