kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.883   -17,00   -0,10%
  • IDX 7.916   -19,65   -0,25%
  • KOMPAS100 1.115   -1,69   -0,15%
  • LQ45 811   -4,28   -0,53%
  • ISSI 278   0,32   0,11%
  • IDX30 424   -2,29   -0,54%
  • IDXHIDIV20 510   -4,57   -0,89%
  • IDX80 125   -0,32   -0,25%
  • IDXV30 138   -1,06   -0,77%
  • IDXQ30 138   -0,93   -0,67%

Pemerintah ingin kurangi penggunaan dollar AS


Sabtu, 10 Desember 2016 / 17:30 WIB
Pemerintah ingin kurangi penggunaan dollar AS


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Presiden Joko Widodo menginginkan pelaku usaha tidak lagi berpatokan pada mata uang dollar Amerika Serikat (AS) dalam bertransaksi. Dengan begitu nilai tukar rupiah bisa menguat.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui, saran ini tak mudah dilaksanakan. Transaksi perdagangan dengan berbagai negara rata-rata menggunakan dollar AS.

Meski demikian, kata dia, semua tergantung pada perjanjian perdagangan yang dibuat baik oleh korporasi maupun oleh pemerintah. "Bisa saja mengganti mata uang perdagangan dilakukan sebagian," ujarnya, Jumat (9/12). Misalnya untuk perdagangan dengan China, mengingat ekspor-impor ke China merupakan yang terbesar dibandingkan dengan Jepang, AS, India, dan Uni Eropa.

Pada Oktober 2016 saja, nilai ekspor ke China mencapai US$ 1,67 miliar. Sedangkan nilai impor dari China di bulan yang sama mencapai US$ 2,4 miliar. Bahkan jika ditarik dari Januari–Oktober 2016, nilai impor dari China mencapai US$ 24,47 miliar. Bandingkan dengan impor Indonesia dari AS yang hanya US$ 644 juta pada Oktober dan US$ 5,9 miliar sepanjang Januari-Oktober 2016.

Bambang mengatakan, untuk mengurangi impor ini, pemerintah akan mengembangkan industri manufaktur. Tapi langkah ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×