kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Pemanfaatan satelit butuh Rp 3 triliun


Kamis, 11 Desember 2014 / 10:07 WIB
Pemanfaatan satelit butuh Rp 3 triliun
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di atm kantor cabang Bank BTN Jakarta, Jumat (22/4/2022). /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/22/04/2022.


Reporter: Benedictus Bina Naratama | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pemerintah mulai mengimplementasikan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan  dengan menyusun rencana induk keantariksaan sebagai penunjang pembangunan nasional lima tahun mendatang.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir bilang,  pemerintah berencana mengembangkan citra satelit pengindraan jauh yang berfungsi untuk menyediakan data seperti pemetaan tata ruang di seluruh Indonesia. 

"Data pemetaan tata ruang ini akan digunakan Kementerian Agraria dan Tata Ruang untuk pemantapan pembangunan nasional," ujarnya, Rabu (10/12) kemarin.

Selain itu, citra satelit ini juga akan dimanfaatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai peta perencanaan sektor maritim. 

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamluddin mengatakan untuk mengembangkan citra satelit ini institusinya membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 triliun untuk membangun satu satelit. 

Saat ini Lapan hanya dibekali dana Rp 600 miliar untuk  mengembangkan rencana ini. Dalam lima tahun ke depan, Lapan berencana untuk membuat dua satelit buatan dalam negeri karena selama ini satelit yang dioperasikan masih dibeli dari negara lain. "Kami butuh dana Rp 3 triliun untuk pembangunan ini," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×