kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45909,31   7,91   0.88%
  • EMAS1.354.000 1,65%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pelemahan ekonomi global akan menguji ketangguhan APBN 2020


Senin, 23 September 2019 / 19:14 WIB
Pelemahan ekonomi global akan menguji ketangguhan APBN 2020
ILUSTRASI. Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pertumbuhan konsumsi domestik dan investasi menjadi dua mesin utama yang diandalkan pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,3% pada 2020.

Oleh karena itu, APBN 2020 diharapkan mampu menjadi instrumen fiskal yang menyokong dua kontributor pertumbuhan tersebut, di tengah gempuran sentimen buruk global yang makin kencang tahun depan.

Dalam rapat kerja Badan Anggaran DPR RI dan pemerintah serta Bank Indonesia (BI) hari ini, Senin (23/9), target pertumbuhan ekonomi dalam asumsi ekonomi makro APBN 2020 menjadi sorotan.

Baca Juga: Sejumlah fraksi di DPR kritik sejumlah poin di APBN 2020

Anggota DPR meragukan target tersebut dapat tercapai di tengah ancaman resesi global yang makin nyata. Anggota Banggar fraksi PKS Andi Akmal menilai, target pertumbuhan ekonomi tahun depan terlalu tinggi.

“PKS menilai pemerintah lamban dalam memperbaiki iklim investasi di Indonesia sehingga Indonesia tidak mampu mengambil peluang-peluang dari perkembangan ekonomi global,” tutur Andi.

Andi menyebut, perekonomian domestik saat ini juga sudah sangat bergantung pada faktor produksi asing. Mulai dari likuiditas, tenaga kerja, hingga bahan pangan.

Maman Abdurrahman mewakili fraksi Partai Golkar dalam rapat kerja tersebut mengapresiasi upaya pemerintah menyederhanakan berbagai regulasi untuk mendorong masuknya investasi asing langsung (FDI). Namun menurutnya, pemerintah masih harus terus menggenjot investasi sebagai solusi memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Jangan lupakan juga investasi domestik yang harus diberi stimulus-stimulus, antara lain melalui dukungan kebijakan moneter,” kata Maman.

Dari sisi belanja, Andi juga menilai peran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2020 sebesar Rp 1.683,5 triliun masih terbilang rendah. Angka tersebut hanya berkisar 10% dari PDB, lebih rendah dari potensi sebenarnya yang diperkirakan sekitar 14% dari PDB.

Baca Juga: BPKH akan masuk ke instrumen investasi langsung pada tahun 2020

“Belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) juga masih butuh penajaman untuk mencapai sasaran pembangunan terutama meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi ketimpangan masyarakat,” tutur Andi.

Menanggapi itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Suahasil Nazara mengakui, kondisi global saat ini sangat tidak mendukung target-target ekonomi pemerintah untuk tahun depan.

Lantas, APBN 2020 dirancang sebagai instrumen yang antisipatif terutama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Suahasil menjelaskan, pemerintah memahami sumber pertumbuhan ekonomi yang paling dapat diandalkan tahun depan ialah konsumsi domestik, investasi, dan pengeluaran pemerintah.

Baca Juga: BPK kritisi pengalokasian DAK Fisik sebesar Rp 15,51 triliun tak sesuai aturan

“Makanya untuk menjaga konsumsi, kita berusaha melindungi masyarakat paling miskin dengan anggaran bansos dan transfer ke daerah yang meningkat. Untuk menjaga sumber pertumbuhan, kita juga sediakan anggaran infrastruktur untuk memastikan daya tarik investasi membaik,” tutur dia usai rapat kerja.

Tahun depan, pemerintah mengalokasikan Rp 385,3 triliun, naik dari outlook 2019 Rp 369,1 triliun untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan kesenjangan. Anggaran tersebut terdiri dari Bidik Misi, PKH, Bantuan Pangan Non Tunai, PBI JKN, Subsidi, Dana Desa, hingga Pembiayaan Ultra Mikro (UMi).

Sementara anggaran infrastruktur juga naik dari Rp 399,7 triliun (outlook 2019) menjadi sebesar Rp 419,2 triliun di 2020.

Baca Juga: Mandalika peroleh suntikan Rp 1,9 triliun di APBN 2020

Suahasil menyebut, sumber pertumbuhan ekonomi domestik menjadi harapan utama di tengah ketidakpastian global saat ini. Lantas, kebijakan dalam APBN 2020 diarahkan untuk memperkuat faktor-faktor domestik tersebut demi mencapai tar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×