kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.827   -1,00   -0,01%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

PDI Perjuangan dan PKS kecewa atas pidato presiden


Kamis, 02 September 2010 / 16:11 WIB
PDI Perjuangan dan PKS kecewa atas pidato presiden


Reporter: Lamgiat Siringoringo | Editor: Edy Can

JAKARTA. Dua fraksi DPR kecewa dengan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhyono soal insiden dengan Malaysia. Fraksi PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai pidato Presiden yang dibacakan semalam di Mabes TNI itu tidak memberikan jawaban untuk menyelesaikan perselisihan kedua negara.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan pidato SBY bukanlah bentuk diplomasi untuk membela kedaulatan dan harga diri bangsa. "Tapi pragmatisme diplomasi yang semata-mata untuk mengakomdasi kepentingan politik saja," ujar Tjahjo, Kamis (2/9).

Dia mengatakan, seharusnya SBY memberikan diplomasi yang sejalan dengan aspirasi masyarakat yang berang dengan sikap arogan Malaysia. PDI Perjuangan juga mendesak agar penyelesaian perbatasan dengan Malaysia bisa segera diselesaikan.

Ketua Komisi I DPR asal PKS Mahfud Siddiq juga setali tiga uang. ""Pidato SBY tidak ada yang baru, pengulangan dan penegasan dari pernyataan yang sebelumnya," ujarnya.

Dia menilai, pidato itu berbeda dengan ekspektasi masyarakat yang besar agar pidato SBY kuat dan tegas. Namun kedua partai tersebut masih belum mau menegaskan apakah akan ikut dalam hak interpelasi soal hubungan Malaysia dan Indonesia.

Semalam, SBY berpidato yang isinya pemerintah memilih jalur diplomasi berupa penyelesaian masalah perbatasan untuk menyelesaikan konflik kedua negara. Sebab, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki cakupan yang luas dan semuanya berkaitan dengan kepentingan nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×