Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA Para ekonom memperkirakan pada Februari 2025 masih mengalami deflasi akibat berbagai faktor yang menekan harga, namun tekanan inflasi diperkirakan mulai meningkat menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menduga pada Februari 2025 akan mengalami deflasi sebesar 0,17% secara bulanan (mom). Namun secara tahunan akan mengalami inflasi sebesar 0,22% yoy.
Menurutnya, penyebab utama deflasi bulanan adalah keberlanjutan diskon tarif listrik sebesar 50%, yang membantu menekan biaya hidup masyarakat.
Namun, deflasi lebih lanjut tertahan oleh kenaikan harga cabai akibat faktor musiman cuaca serta permintaan yang meningkat menjelang bulan Ramadhan.
"Selain itu, kenaikan harga emas juga turut menjadi faktor penopang inflasi, seiring dengan meningkatnya permintaan emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global," ujar Anna kepada Kontan.co.id, Jumat (28/2).
Baca Juga: Surveyor Indonesia Sosialisasikan Layanan Berkelanjutan dalam Lingkup Ekonomi Kreatif
Memasuki momen Ramadhan dan menjelang lebaran, Anna memperkirakan bahwa tekanan inflasi diperkirakan mulai meningkat terutama dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) dan permintaan barang serta jasa yang lebih tinggi.
Dengan dinamika seperti itu, Anna memperkirkan inflasi inti (core inflation) akan mencapai 2,45% yoy.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual juga memperkirakan terjadi deflasi secara bulanan sebesar 0,287% mtm dan secara tahunan terjadi inflasi 0,04% yoy.
Menurutnya, perlambatan inflasi terutama disebabkan oleh harga bahan pokok yang mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, kecuali beras yang stagnan dan gula pasir yang mengalami kenaikan sedikit.
"Selain itu, juga diskon tarif listrik masih berlangsung di Februari ini," kata David.
Sementara itu, David memperkirakan inflasi inti akan mencapai 2,47% secara yoy terutama dipengaruhi oleg lonjakan harga emas, yang kembali naik cukup tinggi.
Di sisi yang lain, administered prices mengalami sedikit akselerasi akibat kenaikan harga BBM jenis Pertamax.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Dorong Transformasi Industri Semen Menuju Ekonomi Hijau
Selanjutnya: Mesoestetic dan Herca Dorong Pertumbuhan Industri Estetika Indonesia
Menarik Dibaca: Mesoestetic dan Herca Dorong Pertumbuhan Industri Estetika Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News