Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tetap prudent atau penuh dengan kehati-hatian adalah langkah kebijakan yang sudah benar. Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan (OECD) melihat, Indonesia rentan terhadap kenaikan suku bunga Amerika sehingga masih perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan di sektor keuangan.
Lembaga yang berkantor pusat di Perancis ini mengakui, meskipun pasar keuangan sebagian besar telah memperhitungkan efek normalisasi kebijakan moneter Amerika, tidak begitu dengan Indonesia. Indonesia rentan terhadap kenaikan suku bunga internasional karena kebutuhan pendanaan eksternal yang masih signifikan baik untuk membiayai anggaran ataupun defisit transaksi berjalan.
Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria mengatakan Indonesia perlu melakukan pendalaman pasar finansial terutama pasar domestik. Jangan memiliki ketergantungan yang tinggi pada asing.
Sebagai gambaran, porsi investor asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia saat ini pada posisi 19 Maret adalah 38,17% atau Rp 496,57 triliun. Porsi ini turun di mana pada posisi 25 Februari 2015, porsi asing sempat mencapai posisi tinggi yaitu 40,17% atau Rp 508,34 triliun.
Menurut Angel, kebijakan moneter Amerika yaitu suku bunga kalaupun akan naik masih dalam kategori rendah. Kenaikan suku bunga Amerika dari posisi sekarang 0,25% tidak akan terlalu tinggi dan cenderung rendah.
Meskipun dalam kategori rendah bukan berarti tidak mempunyai risiko. "Harus lakukan reformasi dalam negeri," ujarnya, Rabu (25/3). Reformasi dalam negeri ini menyangkut perbaikan defisit transaksi berjalan dan fiskal pemerintah.
OECD menilai suku bunga BI saat ini yang sebesar 7,5% telah sesuai dengan kebutuhan untuk menarik modal dalam pendanaan defisit transaksi berjalan. Di masa mendatang, BI perlu memperhitungkan faktor eksternal dan internal ketika melakukan kebijakan moneternya. Khususnya, kondisi sekarang di mana setiap percepatan kembali pertumbuhan dalam negeri tidak akan secepat yang diproyeksi sebelumnya.
Kondisi yang masih tetap berhati-hati inilah yang membuat OECD memproyeksi ekonomi Indonesia tahun ini hanya tumbuh 5,3%. Yang bisa menjadi pendorong ekonomi tahun ini lebih baik dari tahun lalu adalah investasi baik dari pemerintah ataupun swasta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)