kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.140   53,00   0,29%
  • IDX 5.951   26,56   0,45%
  • KOMPAS100 773   1,68   0,22%
  • LQ45 590   0,81   0,14%
  • ISSI 205   1,74   0,85%
  • IDX30 334   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 413   -0,18   -0,04%
  • IDX80 88   0,24   0,28%
  • IDXV30 112   0,09   0,08%
  • IDXQ30 107   -0,12   -0,11%

Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Defisit di 2023 dan akan Melebar di 2024


Minggu, 17 Desember 2023 / 17:04 WIB
Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Defisit di 2023 dan akan Melebar di 2024
ILUSTRASI. Ekonom memperkirakan, current account deficit (CAD) pada sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 0,4% PDB KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca transaksi berjalan atau current account berpotensi berbalik mencatat defisit pada tahun 2023. 

Padahal sebelumnya, atau pada sepanjang tahun 2023, neraca transaksi berjalan mencatat surplus 0,96% produk domestik bruto (PDB). 

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan, current account deficit (CAD) pada sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 0,4% produk dometstik bruto (PDB). 

“Surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, mendorong terjadinya defisit transaksi berjalan,” tutur Faiz kepada Kontan.co.id, Jumat (15/12). 

Baca Juga: Neraca Transaksi Berjalan di Sepanjang 2023 Diprediksi akan Defisit Hingga 0,2% PDB

Adapun bila melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia pada November 2023 sebesar US$ 2,41 miliar atau menurun dari surplus US$ 3,47 miliar pada bulan sebelumnya. 

Surplus perdagangan pada November 2023 pun lebih kecil bila dibandingkan dengan surplus pada November 2022 yang sebesar US$ 5,1 miliar. 

Faiz menduga, tren penyusutan surplus perdagangan akan terjadi ke depan. Sehingga dengan demikian, CAD akan melebar pada tahun 2024. 

Ia memperkirakan, CAD tahun depan mungkin akan berada di kisaran 1,0% PDB. 

Namun, “Defisit transaksi berjalan tetap berada di bawah rata-rata historis, sehingga masih menjadi penyangga pergerakan Rupiah dari tekanan arus portofolio,” tandas Faiz. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×