kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.020   -37,00   -0,20%
  • IDX 5.205   208,02   4,16%
  • KOMPAS100 667   36,47   5,78%
  • LQ45 520   31,26   6,40%
  • ISSI 178   5,95   3,45%
  • IDX30 292   19,12   7,00%
  • IDXHIDIV20 383   26,10   7,31%
  • IDX80 77   4,37   6,04%
  • IDXV30 107   6,14   6,10%
  • IDXQ30 97   6,77   7,54%

Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Defisit di 2023 dan akan Melebar di 2024


Minggu, 17 Desember 2023 / 17:04 WIB
Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Defisit di 2023 dan akan Melebar di 2024
ILUSTRASI. Ekonom memperkirakan, current account deficit (CAD) pada sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 0,4% PDB KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca transaksi berjalan atau current account berpotensi berbalik mencatat defisit pada tahun 2023. 

Padahal sebelumnya, atau pada sepanjang tahun 2023, neraca transaksi berjalan mencatat surplus 0,96% produk domestik bruto (PDB). 

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan, current account deficit (CAD) pada sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 0,4% produk dometstik bruto (PDB). 

“Surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, mendorong terjadinya defisit transaksi berjalan,” tutur Faiz kepada Kontan.co.id, Jumat (15/12). 

Baca Juga: Neraca Transaksi Berjalan di Sepanjang 2023 Diprediksi akan Defisit Hingga 0,2% PDB

Adapun bila melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia pada November 2023 sebesar US$ 2,41 miliar atau menurun dari surplus US$ 3,47 miliar pada bulan sebelumnya. 

Surplus perdagangan pada November 2023 pun lebih kecil bila dibandingkan dengan surplus pada November 2022 yang sebesar US$ 5,1 miliar. 

Faiz menduga, tren penyusutan surplus perdagangan akan terjadi ke depan. Sehingga dengan demikian, CAD akan melebar pada tahun 2024. 

Ia memperkirakan, CAD tahun depan mungkin akan berada di kisaran 1,0% PDB. 

Namun, “Defisit transaksi berjalan tetap berada di bawah rata-rata historis, sehingga masih menjadi penyangga pergerakan Rupiah dari tekanan arus portofolio,” tandas Faiz. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×