kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45780,32   4,77   0.62%
  • EMAS1.023.000 -0,68%
  • RD.SAHAM 0.16%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menko Ekonomi: Kesempatan bagi Indonesia ganti posisi China sebagai tujuan investasi


Rabu, 16 September 2020 / 13:33 WIB
Menko Ekonomi: Kesempatan bagi Indonesia ganti posisi China sebagai tujuan investasi
ILUSTRASI. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tren relokasi menjadi kesempatan bagi Indonesia mengganti posisi China sebagai tujuan investasi.

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 membuat seluruh negara termasuk di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Tak hanya itu, penurunan juga terjadi pada sektor manufaktur sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia turut terkontraksi 6,19% akibat penurunan permintaan.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pandemi ini telah memberikan pelajaran bagi semua negara bahwa rantai pasok  barang tidak dapat terpusat pada satu negara sebab terlalu berisiko.

Sehingga, saat ini sudah banyak perusahaan multinasional yang mulai merelokasi industrinya, seperti dari China ke negara-negara Asia lain.

“Hal ini dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menggantikan posisi China sebagai tujuan investasi dari hub rantai pasok global baru,” kata Airlangga dalam konferensi secara daring dalam HSBC Economic Forum, Rabu (16/9).

Baca Juga: Airlangga: Berbagai lembaga nilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan positif

Airlangga menyebutkan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), saat ini di tengah pandemi ini ada sekitar 143 perusahaan yang memiliki rencana relokasi investasi ke Indonesia. Diantaranya dari Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, China dengan potensi penyerapan tenaga kerja lebih dari 300.000 orang.

Untuk menghadapi tantangan eksternal maupun internal akibat pandemi Covid-19 serta menangkap peluang relokasi investasi industri dari China ke Asia Tenggara, pemerintah menyadari pentingnya meningkatkan iklim usaha daya saing Indonesia.

“Untuk itu pemerintah telah mempersiapkan berbagai kebijakan yakni segera menyelesaikan pembahasan Omnibus Law,” katanya.

Sehingga, sasaran untuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi pencari kerja dan kesejahteraan pekerja serta peningkatan investasi akan segera dilakukan. Sehingga jebakan Indonesia dalam pendapatan menengah (middle income trap) bisa mencapai pendapatan Indonesia maju di tahun 2045.

 

Selanjutnya: Asia menghadapi resesi pertama dalam 60 tahun!

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×