kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45691,13   20,36   3.03%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Menimbang untung-rugi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI)


Kamis, 22 Agustus 2019 / 18:51 WIB
Menimbang untung-rugi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI)
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia kembali menggelontorkan stimulus moneternya dengan memangkas suku bunga acuan BI atau BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%. Ini kali keduanya BI memangkas suku bunga, setelah Juli lalu juga menurunkan 25 bps.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pemangkasan BI7DRR sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global. Berlanjutnya ketegangan hubungan dagang dan sejumlah risiko geopolitik makin menekan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: BI kembali pangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 5,5%

Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan juga investasi non-residensial. Pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga lebih rendah dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta permintaan domestik.

Pelemahan ekonomi global terus menekan harga komoditas, termasuk harga minyak. Berdasarkan data Bloomberg harga minyak jenis brent sepanjang semester II-2019 yakni dari akhir Juni hingga Kamis (22/8) pukul 17.16 WIB melemah 9,6% atau berada di level US$ 60,72 per barel pada hari ini.

Untuk merespons dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, berbagai negara melakukan stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS yang pada Juli 2019 telah menurunkan suku bunga kebijakannya.

Baca Juga: BI pangkas suku bunga, investasi diproyeksikan akan meningkat

Ketidakpastian pasar keuangan global juga berlanjut dan mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah AS dan Jepang, serta komoditas emas.

“Dinamika ekonomi global tersebut perlu dipertimbangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG BI), Kamis (22/8).




TERBARU

Close [X]
×