kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Lampaui Proyeksi OECD dan ADB, Suahasil Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 6% di 2026


Kamis, 24 September 2026 / 20:36 WIB
Diperbarui Kamis, 24 September 2026 / 20:38 WIB
Lampaui Proyeksi OECD dan ADB, Suahasil Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 6% di 2026
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara (KONTAN/Nurtiandriyani S)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki ruang untuk melaju lebih tinggi hingga akhir 2026.

Optimisme tersebut disampaikan setelah laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) per September menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,7% pada laporan Juni.

Dalam OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 poin persentase.

OECD menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi serta ketidakpastian perdagangan internasional.

Baca Juga: ADB Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Stabil di 5,2%

Menanggapi proyeksi tersebut, Suahasil mengatakan pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat berada di atas 5% pada paruh kedua 2026.

“Kita masih lihat bahwa saya yakin di kuartal III, Kuartal IV, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5%. Dan ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” ujar Suahasil kepada awak media di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, pemerintah bahkan memiliki aspirasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6%. Dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh tekanan, Suahasil menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.

“Kalau aspirasi, aspirasi kita menuju 6%. Kondisi dunianya seperti ini kita lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia. Tapi sangat resilient,” katanya.

Optimisme tersebut juga didukung sejumlah indikator ekonomi domestik. Suahasil menyebut inflasi masih berada di level 3,19%, sementara akumulasi pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45%.

Pertumbuhan kredit yang berada di sekitar 13% juga dinilai menunjukkan kondisi fundamental ekonomi yang masih kuat.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi RI Tumbuh Solid Hingga 2027

“Kalau inflasinya 3,19%, kalau yang namanya pertumbuhan semester satu-nya 5,45%, kalau pertumbuhan kreditnya di sekitar 13%. Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita,” jelas Suahasil.

Sebelumnya, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, termasuk konsumsi rumah tangga.

Kebijakan pemerintah yang membantu melindungi konsumsi rumah tangga dan perusahaan/swasta dari dampak kenaikan harga energi juga menjadi salah satu penopang.

Selain konsumsi, aktivitas perdagangan dan perbaikan terms of trade turut mendukung perekonomian. OECD menilai perbaikan terms of trade memberikan dukungan terhadap pertumbuhan investasi Indonesia.

Namun, OECD tetap mengingatkan sejumlah risiko yang dapat mengganggu prospek pertumbuhan. Salah satunya berasal dari perkembangan harga energi.

OECD memperkirakan harga minyak Brent dapat mencapai rata-rata sekitar US$105 per barel pada kuartal IV 2026 sebelum turun secara bertahap pada 2027.

Gangguan pasokan energi di Timur Tengah yang berlangsung lebih lama dari perkiraan dapat mendorong harga minyak dan gas lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan.

Baca Juga: KSSK Waspadai Risiko Global Berdampak ke Domestik, Optimis Ekonomi RI Tumbuh 5,6%-6%

Risiko lain berasal dari sektor pangan. OECD memperingatkan kemungkinan fenomena El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026 dapat mengganggu produksi pertanian di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

Proyeksi OECD tersebut sejalan dengan pandangan Asian Development Bank (ADB) yang masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027.

Namun, ADB menaikkan proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,3% pada 2026 dari sebelumnya 3% dan menjadi 3% pada 2027 dari 2,5%.

ADB menilai perekonomian Indonesia tetap tumbuh stabil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.

Namun, ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, El Nino, kondisi keuangan yang ketat serta ketidakpastian kebijakan perdagangan menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.

ADB juga menaikkan proyeksi harga minyak menjadi sekitar US$ 90 per barel pada 2026 dan US$ 78 per barel pada 2027. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan terhadap inflasi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026, BPS: Salah Satu yang Tertinggi di Asia

Di sisi domestik, Suahasil menilai kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi salah satu fondasi yang mendukung perekonomian.

"Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita. APBN yang berjalan dengan baik dengan yang selalu tiap bulan kita lakukan,” kata Suahasil.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah melihat peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun ini tetap terbuka.

Suahasil bahkan menyebut pertumbuhan kuartal III dan kuartal IV dapat berada di atas 5,5%, sehingga membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk mendekati aspirasi pemerintah sebesar 6%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×