Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Proyeksi OECD tersebut sejalan dengan pandangan Asian Development Bank (ADB) yang masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027.
Namun, ADB menaikkan proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,3% pada 2026 dari sebelumnya 3% dan menjadi 3% pada 2027 dari 2,5%.
ADB menilai perekonomian Indonesia tetap tumbuh stabil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.
Namun, ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, El Nino, kondisi keuangan yang ketat serta ketidakpastian kebijakan perdagangan menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.
ADB juga menaikkan proyeksi harga minyak menjadi sekitar US$ 90 per barel pada 2026 dan US$ 78 per barel pada 2027. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan terhadap inflasi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026, BPS: Salah Satu yang Tertinggi di Asia
Di sisi domestik, Suahasil menilai kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi salah satu fondasi yang mendukung perekonomian.
"Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita. APBN yang berjalan dengan baik dengan yang selalu tiap bulan kita lakukan,” kata Suahasil.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah melihat peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun ini tetap terbuka.
Suahasil bahkan menyebut pertumbuhan kuartal III dan kuartal IV dapat berada di atas 5,5%, sehingga membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk mendekati aspirasi pemerintah sebesar 6%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














