Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan keyakinan konsumen turun pada Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 125,2, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 127,0.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai, penurunan IKK pada Februari 2026 terutama mencerminkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga terhadap kondisi ekonomi ke depan.
“Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain kenaikan harga pangan dan energi, tekanan biaya hidup, serta ketidakpastian global yang masih tinggi,” tutur Rizal kepada Kontan, Senin (8/9/2026).
Adapun ia menilai, kondisi inflasi yang meningkat memang menjadi salah satu faktor penting, terutama pada komponen pangan dan transportasi yang langsung dirasakan rumah tangga. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi masa depan cenderung melemah.
Baca Juga: Keyakinan Konsumen Menurun, Cerminkan Masyarakat Penuh kehati-hatian
Inflasi Februari naik menjadi 4,76%, didorong oleh kenaikan pada kelompok perumahan, listrik dan bahan bakar rumah tangga, makanan minuman dan tembakau, serta perawatan pribadi
Selain itu, ia juga menyebut ketidakpastian global seperti gejolak harga energi dan tensi geopolitik juga ikut mempengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap stabilitas ekonomi dalam enam bulan mendatang.
Dalam konteks tersebut, THR menjelang Lebaran berperan sebagai penopang sementara daya beli, bukan sebagai faktor yang secara permanen memperkuat konsumsi. THR dari pemerintah dan sektor swasta memang akan meningkatkan likuiditas rumah tangga dalam jangka pendek sehingga konsumsi biasanya naik pada periode Ramadan–Lebaran.
Namun secara struktural, menurutnya THR lebih berfungsi sebagai shock positif yang bersifat musiman, sehingga dampaknya cenderung hanya meredam penurunan daya beli, bukan mengubah tren konsumsi secara mendasar.
Baca Juga: Ekspektasi Konsumen Terhadap Ekonomi Enam Bulan ke Depan Melemah
“Artinya, konsumsi tetap bisa meningkat pada kuartal II karena faktor musiman Lebaran, tetapi setelah periode tersebut efeknya biasanya kembali normal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia memperkirakan, prospek konsumsi rumah tangga kemungkinan masih tumbuh tetapi dengan laju yang lebih moderat. Konsumsi masih akan menjadi penopang utama ekonomi Indonesia karena kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 54%–55%, namun pertumbuhannya sangat bergantung pada stabilitas inflasi, perkembangan pendapatan masyarakat, dan kondisi pasar kerja.
Rizal membeberkan, jika tekanan harga pangan dan biaya hidup dapat dikendalikan serta lapangan kerja tetap terjaga, konsumsi berpeluang tetap stabil.
“Sebaliknya, jika inflasi dan ketidakpastian global meningkat, rumah tangga cenderung lebih berhati-hati sehingga pola konsumsi akan lebih selektif dan tidak sekuat periode pemulihan pascapandemi,” tandasnya.
Baca Juga: Survei BI: Keyakinan Konsumen Turun Pada Februari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













