kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   -32.000   -1,16%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Kemenkeu Sudah Serap SBN Rp 11 Triliun di Pasar Sekunder Demi Jaga Yield Stabil


Sabtu, 06 Juni 2026 / 13:25 WIB
Kemenkeu Sudah Serap SBN Rp 11 Triliun di Pasar Sekunder Demi Jaga Yield Stabil
ILUSTRASI. APBN Tekor (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah melalui Kementerian Keuangan hingga saat ini masih aktif melakukan intervensi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah agar tetap stabil.

"Untuk pembelian bond di secondary market, kita masih lakukan. Makanya kan yield yang 10 tahun dan berapa tahun, basically yield government bond agak terkendali kan, tidak terpengaruh oleh rupiah maupun pergerakan perusahaan. Sudah masuk Rp 11 triliun so far ya," ujar Purbaya dalam konfrensi pers APBN KiTA Edisi Juni, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: Bea Cukai Tagih Tiffany & Co Rp 97,49 Miliar, Denda Capai Rp 78,5 Miliar

Menurutnya, intervensi di pasar sekunder tersebut menjadi salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk meredam gejolak di pasar obligasi ketika adanya aksi jual oleh asing. 

Hal ini tercermin dari pergerakan yield SBN tenor panjang, termasuk tenor 10 tahun, yang relatif terkendali meskipun rupiah masih menghadapi tekanan dan pasar global diwarnai pergeseran aliran modal.

Asal tahu saja, yield SBN yang stabil penting karena menjadi acuan biaya pinjaman pemerintah. Jika yield meningkat tajam, biaya penerbitan utang baru pemerintah juga akan menjadi lebih mahal dan berpotensi menambah beban bunga dalam APBN.

Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan pasar keuangan dan siap melakukan langkah-langkah stabilisasi apabila diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar obligasi Indonesia.

Pemerintah berharap langkah tersebut dapat menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung pengelolaan pembiayaan APBN yang lebih efisien di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Baca Juga: Menkeu dan Gubernur BI Dipanggil DPR, Bahas Evaluasi Ekonomi dan Rupiah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×