kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.935   24,00   0,13%
  • IDX 6.454   119,40   1,88%
  • KOMPAS100 850   14,26   1,71%
  • LQ45 640   7,66   1,21%
  • ISSI 223   5,34   2,45%
  • IDX30 360   3,47   0,97%
  • IDXHIDIV20 442   1,02   0,23%
  • IDX80 97   1,60   1,68%
  • IDXV30 120   1,17   0,98%
  • IDXQ30 115   0,49   0,43%

Kemenkeu: Porsi penerbitan SBN ritel pertimbangkan aspek permintaan


Senin, 01 Juni 2020 / 13:20 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi foto Obligasi. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Herlina Kartika Dewi

Deni melanjutkan, pandemi virus corona saat ini kemungkinan turut mempengaruhi minat investasi masyarakat. Menurut dia, sebagian kelompok masyarakat saat ini cenderung menyimpan uangnya untuk berjaga-jaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan.

Namun demikian, di sisi lain saat tingkat konsumsi tidak terlalu tinggi pada saat bulan puasa dan lebaran, sebagian besar masyarakat justru memiliki tambahan likuiditas yang bisa diinvestasikan. Kondisi ini, didorong salah satunya karena masyarakat tidak mudik.

"Di dalam kondisi seperti itu, kami harus lebih berhati-hati dalam menentukan target penerbitan SBN ritel," paparnya.

Dengan memperhatikan berbagai hal tersebut, pemerintah tetap optimistis bahwa porsi penerbitan SBN ritel di tahun ini akan memenuhi target. Hal ini mengingat, di dalam kondisi seperti saat ini opsi instrumen investasi yang aman dan menguntungkan relatif terbatas.

Baca Juga: BI: Arus modal asing kembali masuk ke SBN

Deni menilai, SBN ritel memiliki keunggulan karena baik pokok maupun imbal hasil (yield)-nya dijamin oleh Undang-Undang, jadi lebih bersifat aman dan menguntungkan.

Secara frekuensi, di tahun ini pemerintah akan menerbitkan SBN ritel sebanyak enam kali. Jumlah ini memang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan frekuensi penerbitan di 2019 yang mencapai 10 kali.

"Pemerintah sudah menerbitkan SBN ritel dua kali, tinggal empat kali lagi, yaitu dua untuk SBN ritel (konvensional) dan dua untuk sukuk ritel (syariah)," ungkapnya.

Namun demikian, Deni belum bisa membeberkan jenis SBN apa saja yang akan diterbitkan pemerintah pada sisa tahun ini. Menurut Deni, pihaknya akan melihat produk mana yang paling tepat untuk diluncurkan pada waktu tertentu.

"Seperti rencana penerbitan akhir Juni ini, rencana awal akan menerbitkan SBR, tetapi karena demand lebih tinggi untuk ORI, maka kami putuskan untuk diubah menjadi menerbitkan seri ORI017," kata Deni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×