kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45791,85   7,29   0.93%
  • EMAS938.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Jika kegiatan belajar tatap muka dipaksakan, IGI minta pemerintah perhatikan ini


Kamis, 04 Juni 2020 / 18:54 WIB
Jika kegiatan belajar tatap muka dipaksakan, IGI minta pemerintah perhatikan ini
ILUSTRASI. Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengusulkan agar tahun ajaran baru dapat digeser hingga Januari 2021 mengingat masih berlangsungnya pandemi corona (Covid-19).

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengusulkan agar tahun ajaran baru dapat digeser hingga Januari 2021 mengingat masih berlangsungnya pandemi corona (Covid-19).

Jika kegiatan belajar mengajar (KBM) dipaksakan untuk secara tatap muka dalam era new normal, IGI menilai, pemerintah harus mengutamakan kehati-hatian dan pengkajian mendalam akan hal tersebut.

Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menuturkan, ada beberapa syarat jika memang tatap muka di sekolah dipaksakan. Pertama, new normal di sektor pendidikan dapat dilakukan setelah pelaksanaan new normal di masyarakat berjalan dengan baik.

Baca Juga: Pandemi virus corona, IGI usulkan tahun ajaran baru digeser ke Januari 2021

"Jangan bersamaan pendidikan dengan sektor lain. Kalau sektor lain sudah bagus, kurva turun penyebaran Covid-19, boleh dimulai (new normal sektor pendidikan)," jelas Ramli saat dihubungi Kontan.co.id pada Kamis (4/6).

Kedua, pelaksanaan tidak dapat dilakukan secara serentak oleh semua sekolah. Dalam artian sekolah-sekolah yang sudah siap secara protokol yang bisa memulai dahulu.

"Jangan sampai sekolah jadi klaster baru. Juli, Agustus, September adalah musim kemarau, nah kemungkinan banyak daerah di Indonesia yang kekeringan. Jangankan buat cuci tangan berkali-kali, buat MCK saja cukup terbatas. Ini juga perlu diperhitungkan," imbuhnya.

Ramli menyebut, terdapat konsep belajar selama 4 jam di sekolah dengan jaga jarak 2 meter antar siswa, namun hal tersebut dinilai bukanlah solusi.

Ramli mengatakan, anak-anak berbeda seperti orang dewasa, jadi bukan masalah jaga jaraknya yang utama. Apalagi anak-anak usia sekolah dasar (SD) masih memiliki minat tinggi untuk bermain. Oleh karenanya, ketaatan penerapan protokol kesehatan di sekolah dikhawatirkan akan dilanggar anak-anak.

"Bukan masalah jaga jarak tapi takutnya malah tukeran masker, apalagi anak SD kan semangat bermain masih tinggi," tuturnya.

Baca Juga: Jokowi minta sistem pendidikan beradaptasi hadapi perubahan global

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×