kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Jaringan Advokasi Tambang Sebut Cengkeraman Oligarki di Pemilu 2024 Makin Menguat


Rabu, 24 Januari 2024 / 20:00 WIB
Jaringan Advokasi Tambang Sebut Cengkeraman Oligarki di Pemilu 2024 Makin Menguat
ILUSTRASI. Garibaldi Thohir memberikan penjelasan kepada Wartawan terkait dengan DMO Batubara. Jaringan Advokasi Tambang Sebut Cengkraman Oligarki di Pemilu 2024 Makin Menguat.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai cengkeraman oligarki dalam Pemilu 2024 semakin menguat. 

Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya dukungan langsung dari sejumlah taipan atau konglomerat pada kontestasi pemilihan presiden 2024.

"Dukungan langsung dari Boy Thohir, termasuk sejumlah taipan itu, menunjukkan betapa semakin menguatnya cengkeraman oligarki dalam Pemilu 2024," kata Melky Nahar, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dalam keterangan tertulis, Rabu (24/1).

Dengan demikian, Jatam menyebut pilihan politik yang berbeda antara politisi/pengusaha tetap memiliki titik temu kepentingan yang sama, yaitu sama-sama menjadi pemain industri pertambangan.

Baca Juga: Grup Adaro dan Grup Djarum Bantah Beri Dukungan ke Prabowo Gibran

Lebih lanjut, dukungan para taipan kepada para pasangan capres-cawapres tersebut, juga menggambarkan telah berubahnya konstelasi politik dan ekonomi pasca Soeharto, yang membuat kekuasaan tersebar kemana-mana serta pengaruh politiknya yang luas. 

"Akibatnya, upaya untuk mendapatkan kemudahan dan proteksi politik dalam berbisnis makin lebar dan berbiaya tinggi. Semakin banyak kelompok pengusaha mendekati pusat kekuasaan menimbulkan biaya transaksi keuntungan pemburuan rente dalam kekuasaan," imbuhnya. 

Adapun komposisi pengusaha dan atau politisi berlatar belakang pengusaha di setiap pasangan capres-cawapres 2024, Melky mengatakan dapat dipandang sebagai besarnya kepentingan bisnis dalam mempengaruhi kebijakan kontestan dan parpol pendukung. 

Hal tersebut dinilai Jatam akan berdampak pada berubahnya peran kekuasaan dari yang seharusnya berwatak pelayanan menjadi berorientasi keuntungan.

Baca Juga: Boy Thohir Borong 98,75 Juta Saham ESSA Industries (ESSA)

"Situasi ini semakin mencemaskan, mengingat, tidak hanya Boy Thohir dan sejumlah taipan yang ia sebut yang diduga ikut mendukung Prabowo-Gibran. Tetapi, setidaknya ada 24 yang terafiliasi dengan bisnis tambang, termasuk capres Prabowo Subianto. Demikian juga di pasangan Anies-Muhaimin, terdapat sekitar delapan orang yang terafiliasi dalam bisnis tambang. Sementara di pasangan Ganjar-Mahfud, terdapat sekitar sembilan orang, termasuk Sandiaga Uno, yang terafiliasi dengan bisnis tambang," papar Melky. 

Sejumlah nama itu, merupakan daftar sementara yang terafiliasi dengan bisnis tambang. Di mana nama-nama yang ada datang dari parpol dan non parpol, serta sarat dengan kepentingan bisnisnya masing-masing.

Baca Juga: Bos PLN Sebut Harga Listrik EBT Makin Murah, Namun Butuh Investasi Besar

"Dengan demikian, tak perlu menaruh harapan berlebih kepada para kontestan, partai politik pendukung dan tim pemenangan. Para kontestan yang sedang mempertahankan dan merebut kekuasaan itu, tidak lahir dan besar dari situasi krisis, sebagaimana situasi empiris yang dialami warga di lingkar tambang," pungkas Melky.

Selanjutnya: IHSG Hari Ini Melemah, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham untuk Kamis (25/1)

Menarik Dibaca: Peringatan Dini Cuaca BMKG: Ini Provinsi dengan Curah Hujan Tinggi Klasifikasi Awas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×