kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Investasi portofolio masih menopang surplus transaksi modal dan finansial kuartal I


Minggu, 12 Mei 2019 / 10:36 WIB
Investasi portofolio masih menopang surplus transaksi modal dan finansial kuartal I

Berita Terkait

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal I-2019 sebesar US$ 10,1 miliar. Angka tersebut naik empat kali lipat dari triwulan I-2018 yang tercatat hanya surplus US$ 2,3 miliar.

"Surplus transaksi modal dan finansial cukup besar pada kuartal I-2019 mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik," jelas BI dalam laporannya, Jumat (10/5).


Lonjakan surplus transaksi modal dan finansial ditopang oleh lonjakan surplus pada investasi portofolio. Pasalnya, pada kuartal ini investasi portofolio surplus US$ 5,4 miliar sedangkan periode yang sama pada tahun lalu malah defisit US$ 1,11 miliar.

"Positifnya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dan berkurangnya risiko ketidakpastian di pasar keuangan global menjadi faktor pendorong tetap masuknya modal asing dalam bentuk investasi portofolio," jelas BI.

Adapun surplus tersebut karena adanya aliran masuk modal asing di sisi kewajiban yang surplus US$ 5,3 miliar. Angka tersebut dikarenakan adanya pembayaran obligasi global pemerintah yang jatuh tempo dengan nilai yang cukup besar. Sementara itu di sisi aset investasi portofolio penduduk Indonesia di luar negeri mengalami penjualan neto (inflow) sebesar US$ 100 juta.

Selama kuartal I-2019 aliran masuk modal asing terutama terjadi pada instrumen surat utang sektor publik yang tercatat sebesar US$ 3,8 miliar. Sedangkan aliran masuk modal asing pada instrumen surat utang sektor swasta tercatat sebesar US$ 1,5 miliar. Sementara itu, aliran modal asing masuk pada instrumen ekuitas sebesar US$ 1,1 miliar.

Surplus neraca transaksi modal dan finansial juga didukung surplus investasi langsung. Pada kuartal ini tercatat surplus US$ 5,2 miliar. Naik dari kuartal I-2018 yang tercatat surplus US$ 4,78 miliar. Terutama disebabkan peningkatan arus masuk modal asing (inflow) yang tercatat lebih tinggi dari pada peningkatan arus keluar modal asing (outflow).

Inflow pada kuartal satu ini tercatat US$ 6 miliar, naik 7,69% bila dibandingkan kuartal I-2018 yang tercatat US$ 5,5 miliar. Kenaikan terjadi karena adanya penambahan share kepemilikan investor Jepang pada salah satu bank di Indonesia. Selain itu inflow juga berasal dari penerbitan obligasi global yang dilakukan oleh salah satu perusahaan di bidang energi dan beberapa perusahaan otomotif.

BI mencatat outflow investasi langsung pada kuartal ini sebesar US$ 800 juta lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 700 juta. Arus keluar investasi langsung pada kuartal ini antara lain karena penempatan modal oleh beberapa perusahaan yang bergerak di sektor industri crude palm oil (CPO) dan pertambangan batubara serta salah satu perusahaan teknologi lokal yang memiliki investasi di beberapa negara tetangga.

Secara sektoral aliran masuk modal PMA kuartal I-2019 didominasi oleh sektor manufaktur dan perdagangan. Kedua sektor tersebut memiliki pangsa sebesar 60,3% atau senilai US$ 3,6 miliar.

Sedangkan investasi lainnya defisit US$ 600 juta. Membaik dari kuartal I-2018 yang tercatat defisit US$ 1,48 miliar. Defisit transaksi investasi lainnya disebabkan oleh meningkatnya defisit transaksi investasi lainnya di sisi aset dan turunnya surplus transaksi di sisi kewajiban.

Pada sisi aset, transaksi investasi lainnya sektor swasta mengalami defisit US$ 4,5 miliar. Defisit terutama didorong oleh kenaikan simpanan sektor swasta pada bank di luar negeri dan meningkatnya pemberian pinjaman oleh sektor swasta ke non-residen.

Pada sisi kewajiban, transaksi investasi lainnya sektor swasta mencatat arus masuk US$ 4,6 miliar. Didorong oleh peningkatan simpanan non-residen di bank dalam negeri antara lain terkait dengan kebutuhan pembiayaan investasi di Indonesia.

Sementara itu, transaksi kewajiban investasi lainnya sektor publik defisit US$ 800 juta. Defisit disebabkan oleh pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah sebesar US$ 1,2 miliar. Sedangkan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah baik dalam bentuk pinjaman program maupun pinjaman proyek hanya sebesar US$ 700 juta.




TERBARU

Close [X]
×